Tampilkan postingan dengan label a-safety riding. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label a-safety riding. Tampilkan semua postingan

Safety Boot dari Garut

5 Agu 2009


Bagi rider yang ingin mencari alternatif sepatu 'bikers' kini tersedia satu alternatif lagi. Tidak ada nama besar di cap sepatunya namun cukup pantas menyandang sepatu yang pas buat naik motor. Ala sepatu 'safety' yang lain, sepatu ini memiliki desain boot yang tinggi, melebihi mata kaki. Desainnya juga terlihat kokoh. Pengikatnya menganut sistem velcro dan retsleting, di dalamnya ditambah semacam lapisan perlak yang kedap air.

Sepatu produksi kota Garut ini di banderol dengan harga rp.270.000,-. Saat ini memang belum banyak tersedia di toko-toko aksesoris atau apparrel roda dua. Namun ketersediaan stok bisa mengandalkan person-to-person yang menjual barang ini secara gerilya di lintas komunitas/klub roda dua.

Sepatu ini cocok baik dipakai harian maupun perjalanan jauh (touring). Sepatu 'memegang' kaki dengan nyaman dan sol sepatu juga ber motif layaknya sepatu 'safety' yang tidak licin saat digunakan. Nilai lebih nya ada di sistem pengikat tadi yang sepertinya dapat mencegah air masuk. Hingga saat ini memang belum dilakukan tes saat hujan karena hujan memang belum lagi turun. Satu banderol yang ditemukan dalam alas sepatu hanyalah tulisan/merk 'YUTIES'. Sepertinya nama tidak begitu penting -meski namanya genit- sejauh sepatu ini memenuhi kriteria sepatu 'safety' yang aman dan nyaman di gunakan saat berkendara.

Mengenali Potensi Bahaya

28 Jul 2009


Bahaya ! Semua pengendara pasti mengerti maksud dari bahaya. Saat berkendara, agar tidak jatuh atau menabrak maka kasus selesai dan itulah hasil dari menghindari bahaya. Tapi pernahkan pengendara secara khusus menaruh perhatian penuh pada kata BAHAYA, atau sebuah POTENSI BAHAYA. Bahaya adalah objek atau kondisi fisik atau lingkungan atau perilaku yang ber potensi menimbulkan kerusakan, kecelakaan atau kerugian. Tentu BRO saat berkendara selalu melihat objek di setiap sisi, misalnya mobil atau truk parkir di kiri jalan, anak-anak kecil bermain, pengemudi becak, gerobak makanan sampai motor-motor lain yang bergerak cepat. Melihat tapi hanya melihat saja. Pernahkah terpikir lebih dalam untuk bermain kata "jika ini jika itu". Bagaimana jika mobil yang parkir secara tiba-tiba membuka pintu, atau mendadak bergerak tanpa menyalakan sein. Bagaimana jika anak-anak kecil tadi lupa diri dan bergerak turun ke jalan raya. Bagaimana jika pengemudi becak secara serampangan mengemudikan kendaraannya tidak beraturan. Bagaimana jika motor-motor tadi bergerak zig-zag tak terarah atau mungkin angkutan umum yang akan berhenti mendadak sekehendak hati. Tanpa sadar kita lengah tak terbiasa memperhitungkan potensi bahaya. Bagaimana mengantisipasi nya jika BRO tidak membiasakan diri memperhitungkan segala macam potensi bahaya di setiap sisi jalan raya.

Hitung berapa sisi yang patut diwaspadai ketika berkendara. Tidak hanya depan dan belakang saja. Tapi juga sisi kiri, kanan, dan juga atas serta bawah. Enam sisi tadi patut diwaspadai agar BRO bisa terhindar dari segala potensi bahaya. Meski masih bersifat potensi tetap saja jika lengah akan sangat sulit menerima bayarannya. Bisa terjadi benturan, kecelakaan kecil hingga mungkin musibah yang menyangkut nyawa.

• DEPAN - Kewaspadaan dapat dilakukan melalui perilaku memandang jauh ke depan. Dengan memaksimalkan jarak pandang mata dapat mempelajari situasi. Dan jika ada situasi yang membahayakan maka otak akan diberi kesempatan berpikir untuk mengantisipasi segala sesuatunya. Jadikan kebiasaan mata jauh memandang terus dilakukan saat BRO berkendara.

• BELAKANG - Kewaspadaan terhadap objek di belakang bisa BRO maksimalkan dengan bantuan kaca spion. Lebar spion standar pabrikan tentunya sudah melalui perhitungan tinggi untuk mengurangi efek 'blind spot' saat berkendara. Spion seperti layaknya mata pada punggung. Jangan rubah besar spion yang tentunya akan semakin memperlebar hambatan penglihatan BRO ke belakang.

• KANAN - KIRI - Spion tidak seratus persen membantu melihat keadaan. Pastikan gunakan teknik 'Toleh Sekilas' (head check) untuk menghilangkan efek 'blind spot' (objek tak terlihat oleh pandangan). Dalam jarak yang tidak lebih dari satu meter dapat saja kendaraan sudah berada di dekat BRO. Perhatikan spion setiap delapan detik sekali karena dalam rentang waktu itulah objek di sekitar BRO bergerak dan berubah dinamis. Mainkan bola mata BRO ke seluruh arah demi menghindari mata dari efek fiksasi. Mata yang terus bergerak selain menyehatkan mata itu sendiri tapi juga meningkatkan kadar kesadaran dan kewaspadaan BRO saat berkendara.

• BAWAH - Dengan melakukan teknik pertama (memandang jauh ke depan), gangguan dari bawah dapat sesegera mungkin di antisipasi, semisal lubang pada jalan, atau mungkin keberadaan objek batu atau lintasan berpasir atau segala hal yang bertebaran di sisi bawah (aspal).

• ATAS - Meski sepele tak kurang di musim penghujan ranting-ranting yang tersambar petir dan angin hujan dapat mencederai BRO. Tidak hanya berkutat pada ranting pohon tapi juga rambu-rambu, papan reklame dan object lain yang datang dari atas. Meski tidak perlu memandang ke atas tapi tetap diperlukan kesigapan saat menemui gangguan. Tetaplah fokus.

Itu adalah lima hingga enam sisi yang patut di waspadai. Pembelajaran seperti ini idealnya didapatkan semua pengendara. Pengenalan bahaya dapat menjadi bekal penting bagi BRO saat berkendara agar bisa terhindar dari kecelakaan. Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) selaku operator pelatihan mengemudi defensif (bertahan) selalu menanamkan materi pengenalan bahaya ini pada seluruh pesertanya. Bahkan untuk mengurangi bahaya banyak sekali prosedur yang harus dilakukan saat berkendara, mulai dari prosedur mendahului kendaraan, melintas di persimpangan hingga melakukan rem mendadak sekalipun. Satu poin penting yang kerap 'missed' untuk di cek pengendara adalah fitur kaca spion. Pada setiap prosedur tadi kaca spion menjadi poin nomor satu yang harus di cek. Ini dilakukan untuk antisipasi keadaan di belakang kendaraan. Pastikan cek spion untuk memeriksa keadaan sebelum melakukan aktifitas lain yang berhubungan dengan pengendalian kendaraan.

Sepeda motor adalah benda yang tidak stabil karena hanya bergantung pada dua roda selain kemampuan pengendara dalam pengendaliannya. BRO memerlukan lintasan, kecepatan dan distribusi bobot untuk tetap menahan motor sesuai kehendak hati. Berhati-hatilah saat masuk ke jalan raya karena jalan raya masih saja menjadi lahan empuk bagi mereka yang lengah, dimana kelengahan dapat menjadi awal dari sebuah kecelakaan. Bahaya sekali lagi adalah objek atau kondisi fisik atau lingkungan atau perilaku yang ber potensi menimbulkan kerusakan, kecelakaan atau kerugian. Skill atau keahlian BRO berkendara akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan 'behaviour' yang baik di jalan raya. Memperhatikan potensi bahaya secara seksama tentunya adalah keputusan tepat untuk selalu bisa menjadi pengendara yang bebas dari insiden. Riding is a 100 % full-time job.

*telah di publikasikan di majalah BRO edisi 2. Thanks BRO

Mbak ... Jaketnya Mbak .... Kebalik

9 Jul 2009

Ada pemandangan cukup menarik di jalanan ramai Jogjakarta saat JDDC berkesempatan mengadakan pelatihan di kota ini. Ramainya populasi pengendara wanita membuat mata seakan ingin terus memandangi mereka. Satu pertanyaan kecil mengemuka. Kenapa mereka memakai jaket dengan posisi terbalik ? Lebih nyamankah ? Lebih hangat kah ?

Kami mencoba bertanya kepada para peserta yang kebetulan biasa mengenakkan jaket seperti ini. Mereka umumnya menjawab agar lebih hangat dari hembusan angin yang akan menerpa dada. Jika dilihat lebih dekat sebenarnya tidak ada yang salah dengan pemilihan jaket yang mereka lakukan. Ada yang berbahan denim yang memang menjadi pilihan minimum dari jaket. Ada pula yang memang berbahan tipis. Fungsi utama jaket adalah sebagai media pembalut tubuh pengendara dari terpaan angin dan jika terjadi gesekan jaketlah yang akan menjadi pelindung pertama bagi kulit.

Ada baiknya perilaku ini di revisi demi meningkatkan keselamatan dalam hal berkendara. Sisi negatif yang mungkin saja terjadi adalah :

1. Mudah 'melorot' nya jaket ke arah depan,
2. Akan sibuk membenahi jaket karena 'melorot' tadi dan akan mengganggu handling kendaraan.

Jika alasan agar lebih mudah dilepas-pakai tentunya agak sulit diterima karena justru sebenarnya sebaliknya. Memasukan tangan ke jaket dengan posisi terbalik akan makan waktu lebih lama dan tentunya lebih beresiko. Jika alasan menghindari masuk angin tentunya bisa di antisipasi dengan pemilihan jaket yang lebih tebal dan retsleting / zipper yang lebih erat dengan penutup tambahan. Bagaimana pun dari sisi kenyamanan jaket dengan posisi normal akan lebih membuat gerak tangan bergerak lebih leluasa. Faktor penguasaan handling pun lebih bisa diatur ketimbang memaksakan diri dengan mengenakan jaket dengan posisi terbalik.

Dari sisi gender memang acap terlihat banyak pengendara wanita yang melakukan hal ini atas alasan-alasan simplisitas di atas. Tapi jika ada pengendara pria pun idealnya penggunaan jaket seperti ini harus diperbaiki. Keutamaan pengendalian kendaraan harus di utamakan ketimbang mencari kenyamanan tanpa mau mencari keselamatan. Mari kenakan jaket dengan benar !

Menikung by Joe Palladino

14 Apr 2009

SNI oh SNI

25 Mar 2009


Salah satu teman terlihat bersungut-sungut membaca situasi lalu lintas kota Surabaya yang jauh lebih sadar akan pentingnya keselamatan kepala ketimbang kota asalnya, Jakarta. Apa yang menjadi pembeda, tak lain adalah tegasnya peraturan di Surabaya yang langsung menilang pemakaian helm jenis cetok. Mungkin efek takut ditilang memaksa para pengendara di Surabaya melupakan pemakaian helm cetok.

Jakarta yang terhitung ibukota negara sesungguhnya harus memiliki ketegasan yang sama dengan Surabaya. Karena melalui ketegasan itulah pengendara akan lebih menghargai keberadaan hukum dan aturan yang berlaku. Menindak tanpa pandang bulu adalah sebuah usaha maksimal yang idealnya diterapkan demi merubah kebiasaan buruk pengendara yang selalu melalaikan keselamatan.

Di luar perbedaan penegakan aturan pemakaian helm non-cetok tadi kini muncul ragam kontroversi baru tentang keinginan pemerintah untuk menerapkan helm ber-SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk dipakai oleh seluruh pengendara roda dua. Sebuah usaha yang baik meski masih miskin sosialisasi. Faktanya belum banyak pengendara yang faham tentang definisi SNI itu sendiri dan bagaimana kualitas helm yang sudah dilabeli SNI. Bisa jadi penempatan logo SNI hanya sekedar formalitas bernuansa bisnis agar bisa lolos dari jerat hukum.

Pada skala internasional sendiri sertifkasi pengaman kepala memilih lembaga model SNELL dan DoT yang sudah wara-wiri memunculkan data kualitas helm terbaik dan selalu up to date ini diakui dan digunakan juga pada aktivitas high risk seperti dunia balap International. Kemunculan SNI sendiri sudah saatnya sejajar dengan lembaga yang disebut tadi, tentunya dengan kekuatan lembaga yang sama kuatnya dalam menjamin unsur keselamatan dan penilaian terhadap sebuah produk yang dikeluarkan. Sudah rahasia umum bahwa konsistensi penegakan hukum di Indonesia pada prakteknya selalu naik turun. Ini menjadi pekerjaan rumah besar untuk mensosialisasikan dalam level apa SNI bisa ditempatkan. Tentunya semua demi keselamatan pengguna jalan raya.

1. Sebenarnya apa fungsi utama helm untuk pengendara motor?
---> Helm lebih sebagai media peredam benturan langsung terhadap kepala & muka, meskipun tidak dalam porsi menyelamatkan tapi fungsi helm lebih pada mencegah dan meminimize tingkat cedera pada kepala akibat benturan. Ini akan berpengaruh banyak jika helm yang digunakan mampu menutup seluruh area kepala dan muka.

2. Seperti apa sih helm yang bisa menjamin keselamatan berkendara? Apakah yang sudah mempunyai standar internasional seperti DOT dan SNELL?
---> DoT (Departement of Transportation - http://en.wikipedia.org/wiki/Department_of_Transportation) dan SNELL (http://en.wikipedia.org/wiki/Snell_Memorial_Foundation) adalah organisasi independen yang mendunia dan memang mengkhususkan diri mewartakan fungsi helm (khususnya SNELL) dan memberikan uji sertifikasi atas kualitas helm dimana pada kerjanya mereka memberikan rating produk helm satu dengan yang lain agar bisa menjamin keselamatan kepala meski tidak 100 %.

3. Apa pengaruhnya jika pengendara motor tidak menggunakan helm yang tidak berkualitas?
---> Takaran berkualitas pada masyarakat Indoenesia lebih kepada sisi desain dan material, biasanya untuk daily riding cukup mengenakan half-face, sementara untuk tour riding lebih prefer ke full-face. Melalui sertifikasi internasional layaknya SNELL DOT pengendara bisa merasakan lebih safe karena material helm yang terbeli sudah benar teruji dengan metode tes kelas wahid (tes benturan dari ketinggian tertentu hingga tes dalam wind tunnel). Jawaban jika tidak menggunakan helm yang berkualitas kualitas cedera kepala semakin buruk.

4. Menurut anda, helm berkualitas itu seperti apa?
---> Ukuran berkualitas jika helm itu mampu memberikan keamanan & kenyamanan pada kepala, fungsi chin strap yang kuat, casing yang teruji hingga material busa yang melindungi batok kepala serta berat yang ringan. Untuk ukuran DoT dan SNELL pasti masuk hitungan meskipun SNI sudah mampu berbicara lebih untuk memuaskan keinginan pengendara terhadap kenyamanan sebuah produk.

5. Pemerintah akan memberlakukan SNI wajib Helm per 25 maret besok. Apa pendapat anda ?
---> SNI berarti sudah standar nasional, jika proses rating produk sebelum memberikan label SNI berjalan transparan dengan metode pengetesan yang diketahui khalayak luas dan memberikan listing produk (merk) helm yang benar tentunya konsumen dapat memilih mana jenis atau tipe helm yang layak dibeli. Dan labeling SNI ini diharapkan jauh dari kesan bisnis dan dipaksakan karena bagaimanapun kepala atau bahkan nyawa adalah bayarannya.

6. Mereka (pemerintah) mengatakan tujuannya adalah untuk meningkatkan tingkat keselamatan berkendara yang selama ini sangat kurang. Terutama meningkatkan standar kualitas helm terlebih dulu. Apa pendapat anda?
---> SNI adalah sesuatu yang harusnya bisa dibanggakan. Apalagi jika eksistensi SNI bisa terlihat layaknya DoT atau SNELL yang notabene lebih di akrab di konsumen yang sudah 'melek' soal safety pada helm.

7. Tapi, ketika saya tanya siapa nanti yang mengawasi, mereka masih binggung. Katanya sih kepolisian atau dishub?
---> Semua saling terkait karena semua punya peran soal ROAD SAFETY, terkait dengan pengawasan yang efektif memang sulit bayangkan kalau keberadaan sticker SNI atau SNELL/DOT sudah berada dijutaan kepala yang sedang berada di jalanraya pengawasan nya akan luar biasa mengeluarkan energi. Saya rasa kesadaraan masyarakat akan pentingnya keselamatan yang dapat meningkatkan keselamatan bukan helm! Untuk itu tingkatkan program permberdayaan keselamatan, masyarkat yang akan memilih helm ini sebanding tidak dengan kepala atau nyawanya nya, disisi lain memberikan helm yang berkualitas harus tetap dijalankan.

8. Yang jadi masalah adalah helm-helm impor yang notabene mereka sudah mempunyai standar internasional. Apakah standar mereka sudah cukup untuk keselamatan?
---> Secara data tentunya merk-merk impor yang sudah ber label DoT atau SNELL (original) berarti sudah cukup mumpuni untuk melindungi kepala, sebagai catatan di negeri tercinta ini banyak label-label DOT/SNELL palsu kalau kita melihat list certified helmet dari institusi DOT/SNELL sendiri banyak helm dengan merek & type tertentu tidak tercantum disana (wah gimana neh..?) dan banyak juga merek-merek import terkenal namun tidak semua typenya certified.
Pelarangan penjualan di luar standar SNI tentunya harus diluruskan, paling tidak masyarakat dapat memilih MINIMUM standar helm yang harus dipakai yaitu sesuai SNI. Merek-merek import terkenal dan berlabel DOT/SNELL yang masuk ke Indonesia juga tetap harus diawasi kejujurannya.(Note; sticker DOT & SNELL mudah di temui diemperan terminal Blok M kisaran harga cuma Rp.2,000-,)

9. Apa saran anda kepada pemerintah dan pengendara motor untuk mengurangi tingkat kematian akibat salah menggunakan helm?
---> Pemerintah (atau pihak terkait) sudah harus mulai patuh dan konsisten akan UU yang mereka buat. Konsistensi adalah segalanya. Kampanye secara massal berikut sosialisasi dan penegakan hukum di jalanan teramat penting untuk dilakukan agar masyarakat 'kapok' untuk melanggar hukum. YLKI harus diberikan kekuatan dan power yang sama seperti institusi KPK dengan demikian akal-akalan bisnis dengan mendompleng niat yang baik dapat diminimize.

Sepatu Riders : RVR Rescape

17 Mar 2009

RVR Rescape 02

Sepatu adalah salah satu media pelindung pengendara motor, sepatu melindungi kaki dari panas atau dingin, dan juga mengurangi luka jika terjadi gesekan. Di pasaran banyak sekali pilihan sepatu yang tentunya harus di siasati dengan kondisi jalan yang ada. Tipikal sepatu pengendara motor haruslah bisa melindungi hingga mata kaki, berbahan tebal, dan akan lebih ideal jika dilengkapi dengan pelindung di ujung kaki berupa besi agar di jalan makin aman. Tak bisa dipungkiri bahwa salah satu objek bahaya adalah potensi terinjaknya kaki dari pengendara lain atau mungkin kendaraan lain.

Salah satu merk yang tengah menyusupi pasar adalah sepatu untuk naik motor ber label RVR Rescape ( KLIK DISINI UNTUK WEBSITE ). Berikut review sederhananya.

TAMPILAN
Tampilannya terbilang baru dengan melancip dengan sistem ikat ritsleting dan buckle ala ikat pinggang. Warna yang tersedia sejauh ini masih hitam. Menurut sumber yang bisa dipercaya kabarnya RVR ini nantinya akan keluar versi yang lebih murah dengan material yang lebih menyerupai produk Tomkins (Safety Shoes) dengan rentang harga dibawah 300 ribu.

HARGA
Masih ada di kisaran 350 ribu tentunya ini bisa menjadi pilihan yang ideal. Meski di rentang yang sama hingga 400 ribu pengendara juga bisa mendapatkan sepatu merk Krisbow versi pendek.

UKURAN
Rentang ukuran ada di 40 s.d 44. Pastikan sebelum membeli sudah melakukan 'fitting' ke kaki. Biasanya pada merk satu dengan merk yang lain berbeda ukuran meski tidak jauh.

KELEMAHAN
Meski dari sisi tampilan terbilang mantap sebenarnya produk RVR Rescape ini memiliki kelemahan pada sisi pengikat. Buckle nya tidak mengunci rapat pergelangan dengan baik. Ini bisa tertutupi dengan fungsi ritsleting di bagian mata kaki bagian dalam. Pekerjaan rumah buat produsen untuk re-design sistem pengikat di produk yang satu ini.

Sebagai pilihan tentunya kemunculan RVR jadi barang bagus. So coba hunting ke penyedia apparel berkendara terdekat dan pastikan kita dibekali 'safety riding gear' yang layak saat berkendara.

POIN 1 - 10
Cukup 7


*pictures owned by RVR website*

Antara Helm Motocross dan Helm Balap Jalanan

25 Feb 2009

Helm pada dasarnya adalah sebuah perangkat keselamatan bagi pengendara, fungsinya lebih untuk mengurangi tingkat cedera yang mampir di kepala. Pada perkembangannya helm menjadi salah satu unsur fashion demi mendongkrak penampilan. Helm juga menjadi pembeda satu cabang olahraga terhadap olahraga yang lain. Bicara balap, bentuk helm yang berbeda justru ditampilkan cabang motocross dan balap jalanan. Bentuk helm motokros lebih dikenal sebagai helm cakil dengan bentuk 'pet' lebih mancung ke depan serta proteksi dagu yang juga lebih menjorok ke depan, sementara helm balap jalanan (street helmet) berbentuk lebih bulat dan lebih menekan kepala dengan kaca helm tanpa 'pet'.

Mengapa bentuknya bisa berbeda ? Karena secara fungsi adalah sama dan juga sama-sama berkutat dalam dunia balap. Ternyata bentuk helm ini memiliki karakterisitk dan fungsi yang berbeda. Apa saja ?

Motocross Helmet, dengan desain dagu yang lebih terbuka membuat pengendara lebih bebas mengatur nafas karena balapan motocross cenderung berisi lintasan-lintasan ketat dan menguras tenaga. Jika saja memakai 'Street Helmet' upaya mengambil nafas akan terus-terusan membuat kabut di kaca helm. Pada situasi tertentu seperti di lintasan berlumpur dan berpasir 'pet' helm juga berfungsi menghalau partikel debu untuk masuk lebih dalam ke kaca, tak heran pengendara lebih nyaman mengenakan 'Goggle' yang lebih mudah dibersihkan ketimbang memakai kaca pada helm. Di saat panas 'pet' juga dapat menghalau sinar matahari. Jika helm jenis ini dipakai di lintasan balap jalanan tentunya mengganggu sisi aerodinamika dimana helm rentan tertarik ke belakang karena desainnya yang lebih besar.

Street Helmet, dengan desain membulat mengikuti kepala helm jenis ini membuat sisi aerodinamika lebih terjaga dalam usahanya menambah kecepatan saat balapan. Pada balapan yang menggunakan jenis helm ini memang lebih menekankan pada kecepatan dan saling mendahului dalam tempo yang lebih kencang ketimbang balapan motocross. Ini yang membuat dari sisi desain antara 'Motocross Helmet' dan 'Street Helmet' menjadi berbeda.

Bagaimana jika helm-helm ini diaplikasikan ke penggunaan sehari-hari ? Tidak ada larangan dalam bentuk apapun dalam memilih helm sejauh helm memberikan proteksi lebih terhadap kepala dan memberikan kenyamanan pada penggunanya. Pastikan saja kita sudah memilih helm dengan benar.

HAI Riders ! Safety Riders !

28 Jan 2009

Adalah rangkaian kalimat penyebar semangat kampanye aman berkendara bagi para pembaca majalah HAI, dipilih karena cukup simple diingat dan langsung berhadapan dengan kata SAFETY, harapannya dengan kalimat ini banyak para pembaca HAI dapat mengaplikasikan semangat aman berkendara agar tetap jauh dari potensi bahaya yang senantiasa mengancam para pengguna jalan raya.

Safety Riding Weblog Indonesia www.jalanraya.net secara kontinyu berencana membuat artikel yang dekat dengan keseharian para pengguna kendaraan roda dua. Ini lantas dihubungkan dengan usaha meningkatkan sisi kesadaran (awareness) aman berkendara pada pengguna roda dua yang masih terbilang belia dalam usia sekolah menengah pertama hingga atas. Bagaimana pun perilaku aman berkendara adalah cerminan si pengendara itu sendiri.

So .. be HAI Riders ! Safety Riders !

Mau liat artikelnya ? Ikuti terus edisi majalah HAI mulai terbitan 9 Februari 2009 !

Mission : Possible : Safe Road !

21 Jan 2009

Well .... ide awal keikutsertaan gue di kompetisi nge-blog ini ya murni karena merasa wajib berbagi atas misi yang tengah berjalan. Mission : Possible. What mission ? Entah muluk entah tidak karena pihak yang akan gue sasari hanya sebuah hati dimana hati tersebut mau kembali berpikir tentang arti keselamatan berkendara. Ya, berkendara .. itu yang secara spesifik gue coba angkat karena mau ga mau fakta menyebutkan bahwa lalu lintas sudah lebih dari kacau dan jauh dari kata ideal. Sebagai seorang penggiat kampanye road safety, khususnya saat berkendara roda dua, paling tidak ajang ini bisa jadi medan yang baik untuk pembaca untuk kembali melihat apakah sikap berkendara kita sudah dekat dengan kata aman atau justru meninggalkan sifat nyaman.

Berkaca saja pada diri sendiri, apakah kita berada di barisan minoritas yang tertib hukum jalan raya dan berusaha mentaati seluruh peraturan berlaku, atau justru mengalihkan kesalahan ke pihak lain dan memilih lebih baik berbaris melanggar peraturan dan tidak peduli akan berdirinya rambu-rambu. Melakukan sesuatu untuk negri buat gue ya hanya ini, mencoba mengangkat kembali bahwa keselamatan berkendara itu penting. Berkendara tidak hanya soal memutar gas tapi juga bagaimana menghargai sesama pengguna jalan.

Apa aja misinya ? stay tune aja ............. i'll post it one by one later !

Di Seminar AISI dan FAMI 2008

12 Des 2008

"Usaha Menurunkan Tingkat Kecelakaan Sepeda Motor di Jalan Raya", begitu tajuk seminar satu hari yang digelar di Ruang Merak, Jakarta Convention Center pada 11 Desember 2008 bersamaan dengan event tahunan Jakarta Motorcycle Show 6 - 14 Desember 2008. Turut hadir berbagai pihak yang bersentuhan langsung dengan kampanye keselamatan jalan raya seperti wakil-wakil dari Asosiasi Industri Sepeda motor Indonesia, Departemen Perhubungan, Ditlantas Polda Metro Jaya hingga pemerhati masalah Road Safety dari Jepang dan praktisi Studi Transportasi. Tak tertinggal sebagai peserta seminar hadir perwakilan dari klub/komunitas sepeda motor, staf ATPM hingga jurnalis dari berbagai macam media. Semua memiliki keinginan yang sama yaitu mengedepankan perilaku aman berkendara demi menghindari sebuah kecelakaan.

Sepeda motor saat ini sudah menjadi pilihan banyak masyarakat sebagai moda transportasi alternatif, semisal sebagai transportasi dari dan ke tempat kerja, mengangkut barang hingga sebagai sarana rekreasi. Ini yang menempatkan Indonesia sebagai produsen nomor 3 terbesar di dunia setelah Cina dan India. Angka besar ini muncul paralel akibat buruknya sistem transportasi massal dan masyarakat lebih memilih memiliki sepeda motor. Berbagi tanggapan, kritik dan saran membuat seminar berjalan aktif. Secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor-faktor terjadinya kecelakaan lebih kepada faktor SHEL (Software-Hardware-Environment-Liveware) atau mungkin lebih mudah dibahasakan menjadi 3 faktor yaitu Manusia, Lingkungan dan Kendaraan. Sementara di sisi lain dituntut ketegasan dan konsisten penegakan hukum terhadap regulasi yang ada karena dampaknya secara tidak langsung bisa menekan angka kecelakaan.

Di sela materi presentasi, salah satu pembicara yang datang dari Ditlantas Mabes Polri, Bpk Subono sempat berkelakar bahwa ada saja celah pengguna kendaraan demi menghindari hukuman atas sebuah pelanggaran rambu-rambu lalu lintas. Dikisahkan demi menghindari rambu larangan masuk, si pengendara memilih menggerak mundurkan kendaraan, dan ketika didatangi petugas si pengendara berkilah bahwa dia tidak masuk melainkan hanya memundurkan saja. Pintar ya. Pekerjaan rumah besar tengah berada di meja para produsen motor, pemerhati masalah sosial, praktisi keselamatan jalan dan pihak-pihak terkait lain sembari menunggu fakta bahwa di akhir tahun angka penjualan roda dua sudah akan menjadi jumlah 6 juta unit sepeda motor. Kita sebagai konsumen harus pintar-pintar menjaga angka kecelakaan agar tidak semakin tinggi. Utamakan perilaku aman berkendara, peduli keselamatan diri sendiri dan orang lain.

Ayo deh ke Ujung Genteng

9 Des 2008

Kelar juga tugas nge-brief temen-temen KHCC saat kopdar kemarin soal rencana perjalanan ke UG tgl 27-29 besok. Persiapan yang dah dibangun mudah-mudahan dapat mengakomodir keinginan banyak pihak meski bakal ada juga yang mesti menahan ludah karena khawatir ga bisa berangkat. Yah karena kita di panitia selalu woro-woro kalo perjalanan turing kali ini bakal beda dari turing KHCC sebelumnya.

Apa nya yg beda ? Ya jarak tempuh, ya waktu perjalanan. Dengan berbekal biaya pendaftaran 170rb per orang, member dah dapet penginapan dan konsumsi. Bensin ya kudu siapin sendiri-sendiri. Nah ini serunya, di hari ke-2 uang bensin sepertinya bisa berkurang karena bakal ada temen-temen dari (*mereka sih nyebutnya Galangers, staf dari Toyota Tsusho Indonesia) .. ya itu deh. Sekelompok kecil temen-temen wanita yang doyan jalan-jalan katanya. Dan Ujung Genteng bakal jadi destinasi mereka akhir tahun yang ternyata klop dengan agenda turing KHCC. Tinggal koordinasi sama temen2 KHCC untuk bawa spare helm untuk ngebantu mereka tetap dalam koridor safety dalam perjalanan wisata hari ke-2. Mereka dateng tiba-tiba beberapa hari yl via mas Petrus yang dari awal dah ngebantu survey online KHCC.

KHCC bakal ngendon di Mamas (bahasa Sunda yang berarti *sensor*), mereka di Ujang kalo ga salah dan grup mas Petrus di Hexa, dari segi jarak tidak akan jauh berbeda. Seru dan ga sabar menanti, cuma kendala di 170 aja nih yang sampai detik ini malah kepake buat jalan-jalan ke JMS 2008 di JHCC, mudah2an ga ada yang kudu dibeli, maklum pameran motor kayak gini kadang ada aja sesuatu yang riskan untuk ditinggal tanpa dibeli. Kekekekekk ..........

City Sport siap, tinggal ganti ban size 110/80-17 jika ada kesempatan trus nge-set perlengkapan mulai dari sleeping bag sampai pernik-pernik ala bikers yang kudu melewatkan dua-tiga hari di alam luar. Lama jam perjalanan yang di perkirakan nyantel di kisaran 10 jam mau ga mau harus mempersiapkan diri lebih mulai dari stamina pria (jahhhh ... kayak ape aje), safety riding gear model helmet dan protektor lutut-siku plus rompi dan sepatu turing. Perjalanan panjang ke dua setelah gelaran perjalanan mudik tempo hari ke Ambarawa.

KHCC sih nyebutnya Adventouride .. so ayo deh jalan !

On Air bentar Sore-sore

27 Nov 2008

Kemarin malam ............. brakkk ... 3 rider sukses tergelincir akibat jalan licin di tikungan Pemancingan Pd Kopi menuju tanjakan Bintara. Gue yang datang belakangan cuma bisa kasi kode ke belakang agar memperlambat laju kendaraan. Satu sis ber Tiger langsung teriak nanya .. "Kenapaaa ?" .... gue cuma jawab .. "Jatuh ... Licin !". Terlihat tidak parah, rider 1 rada pincang pegal di pinggang, rider 2 nyengir ke belakang, rider 3 kayaknya mo marah ke rider 2 tp ga jadi ... 3 motor jatuh satu-satu dan tidak ada kontak langsung, murni karena tergelincir. Mungkin karena spontan reflek tekan rem melihat yang depan jatuh, kaget dan ikutan tergelincir. Rem depan yang tertekan gue pikir jadi faktor utamanya, jika rem depan yang ditekan justru kestabilan motor terkunci dan yang ada pasti ban terpeleset, lalu terjatuh. Beda jika rem belakang yang ditekan, efek sliding sepertinya masih bisa dalam taraf pengendalian standar. Setelah melihat semuanya baik-baik saja langsung gue lanjutin perjalanan pulang. Masih gerimis, masih licin, dan masih ribet bawa backpack ... rusuhnya naik motor ga pake box. Ribet !

Di waktu yang sama gue tengah nge-dengerin i-Radio Sore-sore, tetap dengan nuansa Sandy ngerjain Mely, kali ini lagi angkat topik "Berubah itu Mudah : being a Safety Driver". Ga safety denger radio sambil naik motor ? Ya dan tidak, justru buat gue radio jadi mesin penyedia informasi lalu lintas yang cukup valid sambil menghilangkan suntuk akibat buruknya situasi lalu lintas Jakarta. Asal ... sumbat satu kuping saja dan dengan volume yang tidak besar. Satu kuping lagi berfungsi untuk tetap me-monitor keadaan sekitar. Cukup safe i Think !.

Seperti biasa mereka buka line di 0816 1 472 346 (SMS) , isi SMS yang masuk tetep pada 'ngomel' soal keberadaan motor dan keberingasannya. Memang benar juga sih tapi umpatannya tetep bikin gemes. Hasil gemes langsung gue pinggirkan motor yah sekedar untuk kirim SMS soal tips trik menghindari tergelincir, persis di bawah Fly Over Kranji tertulis 'Message Sent'. Kringgg .... baru sekian menit ada telp masuk, namanya Ade, dari i-Radio langsung bla bla bla ngajak on air bentar bareng Sandy n Mely, OKELAH KALO BEGITU .. jawab gue singkat. Terpaksa donk minggirin motor lagi, kali ini lebih safe untuk on air dan cari spot yang tidak bising. Yak masuk ............. jreng ... ane on-air yah sekitar < 10 menitan kali ya (ga tau brp menit), cuap-cuap soal jadi defensive rider itu mengasyikan, mengutamakan selamat karena punya keluarga dan hal-hal lain seputar gimana baiknya berperilaku SAFE di jalan, gue tegesin juga kalo riding itu adalah full time job, konsentrasi all the way. No Excuse !.

Santai dan puas tapi tetep ketinggalan mo nyertain info weblog Safety Riding gue di www.jalanraya.net. Yah tapi tetep lah puas banget. Kringgg .......... baru mo jalan, si Irwan telp. Ya ya ya .. itu gue ... kekekekekke...........

=========
foto : Facebooknya i-Radio Sore-Sore

Jelang Adventouring Ujung Genteng

25 Nov 2008

5 November - 27 November 2008. Hari ini tanggal 25 (November) dan sisa deadline opname CS1 gue tinggal 2 hari. Apa jadinya jika si Redd harus bertahan lebih lama ngendon di bengkel ? Terpikirkan untuk ganti motor saja, lepas bengkel lalu di permanis dan dijual lagi ... ah kok sepertinya terlalu bernafsu. Ga kok ! ga dijual deh ... asal ga rewel lagi aja ya.

27 s.d 29 Desember 2008. KHCC rencana ngadain touring bernuansa adventure ke Ujung Genteng, sebuah tempat jauh di bawah jika kita liat peta pulau Jawa (Barat), posisinya di Selatan Jawa dan sepertinya menawarkan objek yang menarik, sesuatu yang harus dibuktikan sendiri. Nah ini dia ... gue kudu bawa CS1 donk kalo mau turing jauh, ehhh dia lagi dirawat, semoga bisa sembuh tepat waktu dan sekali lagi di test ride untuk jarak jauh setelah percobaan pertama saat mudik kemarin.

Hingga tulisan ini dibuat memang belum ada persiapan apa-apa yang berhubungan dengan motor, tapi soal jalur gue percayakan semuanya ngatur bareng-bareng dengan Alex, Henry dan si One ... yah mereka inilah KHCC-ers utama yang manas-manasin grup turing biar ada kegiatan akhir tahun. Persiapan penginapan sudah 'clear' dan bakal pake tempat di losmen MAMAS (kata orang Sunda, Mamas artinya 'yang itu .. tuh' ya ... *ngeri nyebut, porno*). Konsumsi pun insya allah beres, mikir paling dapet sayur asem ala Sunda dan tentu saja SeaFood .. mudah2an lezat.

Survey lain yaitu ke temen yang baru kenal online, namanya bro Petrus, yang juga ternyata seorang pegawai di salah satu ATPM roda dua di Indonesia. Lucunya .. dan beruntungnya, beliau justru bakal menginap di rentang hari yang sama dan di area losmen yang sama, makin yakin bahwa agenda perjalanan akan berjalan baik.

So ... nunggu si Redd CS1 keluar bengkel dulu, baru setelah itu nyiapin perbekalan, syukur2 bisa ngasi tambahan e21 ke tubuh si Redd *senyum penuh harap*.

Kampanye SR ala Extravaganza

24 Nov 2008

Ada yang menarik pada episode 'Extravaganza' di TransTV edisi Sabtu 22 November 2008. Apanya ? Lucu adegan komikalnya ? Bintang Tamunya ? atau D'Masiv yang tengah naik daun dan unjuk gigi di sela cerita 'Extravaganza' ? Bukan itu semua, tapi kali ini acara reguler komedi ini tampil dengan isi cerita yang sedikit berbeda. Ya, dengan nuansa kampanye 'Aman Berkendara' garapan Direktorat Jendral Perhubungan Darat. Dirjenhubdat inilah yang saat ini tengah gencar-gencarnya menyuguhkan berbagai ilmu pengetahuan kelengkapan aman berkendara secara ideal kepada masyarakat luas. Penggunaan helm berkualitas, jaket, sarung tangan dan sepatu menjadi kewajiban pengendara saat berada di jalan raya. "Jika terjadi kecelakaan, ya nggak parah-parah amat !", seloroh Sogi.

Ini menjadi salah satu cara jitu dengan memanfaatkan media favorit pemirsa plus menaruhnya di jam utama (Prime Time). Di tengah cerita diperagakan pula perbedaan kualitas helm standar dan non-standar dengan cara membantingnya ke atas lantai, ini sebagai acuan bahwa jika terjadi benturan, helm non-standar tidak akan mampu memberikan perlindungan yang baik. Selain itu diperagakan juga kebutuhan jaket berwarna terang semata-mata demi menjadi objek yang mudah terlihat, tak ketinggalan pemilihan sarung tangan dan sepatu yang baik.

Banyak cara ditempuh berbagai pihak demi mengedepankan pentingnya aman berkendara, banyak pula target pengendara yang mesti disentuh seiring buruknya mental dan buruknya pemilihan kelengkapan standar aman berkendara. Jika acara ini dapat tertangkap pemirsa lalu pemirsa mencerna dan mengaplikasikannya di kemudian hari, sebuah prestasi tinggi akan menjadi catatan manis Direktorat Jendral Perhubungan Darat. Semoga.

Jadi BIJAKSANA BIKERS saat hujan

21 Nov 2008

============================
"Biker kok takut hujan ?", seloroh Finda ke Alex lewat telpon, ketika ditelpon ternyata Alex sedang berteduh di kolong Fly Over karena hujan. Wah, entah hujannya yang teramat besar sehingga sulit dilalui atau memang Alex nya saja yang minus persiapan sampai-sampai harus menepi segala. Ketika hujan makin deras muncul pula Alex-alex lain yang memilih berteduh ketimbang melanjutkan perjalanan.

Harus bagaimana kita sebagai bikers ?

Seolah menjadi resiko buat pengendara motor, sehari-harinya menelan debu, terguyur hujan bahkan tertimpa terik matahari semata-mata karena fungsi badan motor yang tidak menyediakan atap perlindungan. Segala gangguan di jalan pasti akan langsung terasa di tubuh pengendara, tak terkecuali hujan. Apa ya DO and DON'TS nya kalau kita jadi bikers saat ngadepin hujan ? Ya itung-itung jadi Bijaksana Bikers, ga merugikan orang lain dan pastinya menguntungkan diri sendiri .... *senyum*

1.Jika hujan ya pasti wajib sedia JAS HUJAN. Jika mau terabas hujan, ya pakailah jas hujan. Tapi jangan pakai yang asal-asalan bro ! Pakai model satu stel jas dan celana, jangan yang model ponco, kenapa ? jika lembaran ponco melambai-lambai bisa saja mengenai kendaraan sekitar seperti tersangkut, lebih parah jika masuk ke putaran rantai yang bisa berakibat macet dan pengendara terpelanting.

2.Jaga kaca helm agar tetap bersih bro ! Gerak air yang terus-terusan mengenai kaca helm dan tak terhapus bisa berabe karena mengganggu penglihatan saat berkendara. Lebih bagus jika kaca nya bening dan tidak tergores. Ada yang kasi tips agar kaca helm dilapisi tembakau, caranya cukup taburkan ke kaca yang nantinya akan menghindari embun muncul pada kaca helm.

3.Biker yang belum 'ngeh' keselamatan dan ga sayang kaki pasti buru-buru minggir ganti sepatu ke sendal selain memakai jas hujan. Wah jangan bro ! Apotik penjual jempol kaki belum tersedia di Jakarta, jangan memaksa diri dengan mengorbankan keamanan dan kenyamanan. Tanpa sepatu kaki bisa kedinginan, efeknya bisa membuat respon kaki ke rem atau kopling menjadi berkurang. Belum lagi soal licin saat menginjak aspal.

4.Ban bagaimana ? Ya sebisa mungkin jangan terus-terusan pakai ban botak, tidak hujan pun sama bahayanya. Saat jalan basah, grip ban ke aspal bisa berkurang jauh, licin bisa melintir nanti kena efek aqua-planning. Ganti segera bro !

5.Buat yang motornya *maaf* telanjang, perhatikan lagi sisi kelistrikan. Jika banyak terkena air secara terus menerus bisa saja ber-akibat korslet. Nanti lampu bisa mati, klakson juga. Jika mau sedikit repot ya lapisi bagian kelistrikan untuk menghindari efek langsung tersiram air.

6. Nah buat yang ga punya persiapan dari tiga poin di atas biasanya memilih berteduh sekaligus istirahat. Konyolnya terkadang justru kegiatan mereka dapat mengganggu arus lalu lintas, seperti kebiasaan gemar berteduh di bawah jembatan penyeberangan, kolong fly over atau tempat teduh lain. Parkir saat darurat sah-sah saja dilakukan, tapi itu pun harus menjaga hak orang lain juga yang mencari kenyamanan, atur parkir agar tidak mengganggu ruang jalan. Misalnya cari warung atau toko, sembari istirahat perut pun kenyang, parkir pun nyaman.

7.Hidupkan lampu bro! Hujan deras kadang memaksa kendaraan bergerak lambat, tetap nyalakan lampu tapi jangan sesekali menyalakan lampu hazard yang berkedip genit kanan-kiri atau konstan berkedip bersamaan. Aturan internasional berkendara sama sekali tidak merekomendasikan perilaku tersebut, Pengendara lain bisa dibuat bingung, ujungnya si pemakai lampu kedap-kedip lah yang bisa disebut 'norak'. Penggunaan lampu hazard hanya dilakukan pada saat kendaraan berhenti dalam keadaan darurat. Bisa donk jadi bijak soal lampu ?

8.Tetap jaga stamina berkendara, tingkatkan konsentrasi ! Hujan lebat acap menggangu daya pandang pengguna jalan. Hati-hati lubang di jalan yang tertutup air, caranya ya coba kenali rute, hafalkan titik rawan yang berpotensi membuat celaka. Layaknya pembalap yang punya racing line, kita pun idealnya punya 'jalur balap' yang bisa bikin kita nyaman melintas dimana saja.

Semua oke, jadi siap donk untuk terus terabas hujan, berkendaralah dengan sabar saat hujan dan jaga konsentrasi ! Bikers ga lagi takut hujan bro !

==========================
dibuat spesial untuk www.tokohelm.com

JDDC - Boehringer Ingelheim Defensive Riding Training

17 Nov 2008

Sabtu-Minggu (14-15 November 2008) PT. BOEHRINGER INGELHEIM Indonesia bersama Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) mengadakan dua hari pelatihan Aman Berkendara secara defensif atau lebih dikenal dengan istilah Defensive Riding. Event ini menjadi jawaban atas program yang berlaku 'worldwide' yang dicanangkan PT. BOEHRINGER INGELHEIM internasional yaitu "Zero Accident to Field Force". Peserta yang hari itu berjumlah 16 orang sehari-harinya memang berkutat dengan kendaraan operasional sepeda motor, mereka bekerja sebagai Sales Force yang selalu wara-wiri memberikan penawaran-penawaran pada banyak instansi farmasi. Tak heran kebutuhan akan keselamatan menjadi nilai mutlak sejajar dengan target yang diberikan oleh pihak perusahaan.

Hari pertama peserta disuguhkan kelas teori yang mengupas habis sisi yang belum terungkap dari ilmu berkendara, baik soal bagaimana posisi badan yang ideal, pemilihan perlengkapan berkendara, ilmu menikung, manajemen resiko hingga pemutaran video-video dan ilustrasi seputar fakta kecelakaan yang dipaparkan secara gamblang oleh Bp.Surya selaku kepala instruktur JDDC selama dua hari. Materi menjadi ilmu baru bagi peserta saat mereka menyadari bahwa berkendara tidak semudah yang mereka bayangkan, seperi diketahui bahwa berkendara di Jakarta menjadi media penguras tenaga tingkat tinggi dimana mental dan emosi selalu tarik ulur untuk menjadi yang terdepan. Disinilah pentingnya metode aman berkendara secara bertahan (defensive). Titik bahaya bisa datang dari arah mana saja (depan-belakang-kiri-kanan bahkan atas dan bawah). Pengendara kebanyakan selalu berkilah pada elemen lain ketika mereka mengalami insiden, bisa saja mereka menyalahkan munculnya tiba-tiba lubang di jalan atau bahkan saling tuding bahwa kendaraan lain lah yang melakukan kesalahan. Jika mau diambil investigasi tersingkap data dominan penyebab kecelakaan datang dari faktor manusia, lemahnya antisipasi dan mental berkendara menjadi dominan sehingga kadang emosi lah yang muncul sebagai tameng atas kesalahan mereka sendiri.

Hari kedua menjadi medan praktek atas teori di hari pertama, total sebelas simulasi berkendara disuguhkan tim Instruktur. Peserta dipaksa keras mempraktekan ilmu berkendara di berbagai medan mulai cara pengereman yang baik, antisipasi kecelakaan, berkendara di titian besi dan medan berpasir, meliuk di cone hingga naik ke jembatan besi. Antusiasme peserta sangat terlihat sepanjang pelatihan, hujan deras di tengah haripun tak menyurutkan agenda pelatihan saat peserta tetap berada di lapangan mengenakan jas hujan. Salah satu metode pelatihan yang menarik adalah sesi "Commentary Riding", metode ini melibatkan peserta dan instruktur dalam satu motor dan berkendara di medan sebenarnya yaitu jalan raya, di saat itulah peserta wajib mengkomunikasi kan setiap kondisi yang tampak di sekeliling mereka.

Diantara enam belas peserta, hadir dua pengendara wanita masing-masing Desi dan Norma. Desi terlihat cukup fasih mengikuti medan halang rintang, dengan logat Jawa-nya yang kental senyumnya kerap mengembang seolah jadi penghibur bagi peserta lain di tengah lapangan. Norma pun sama dengan sikapnya yang terlihat enjoy menikmati pelatihan. Di sesi "Commentary Riding", terungkap alasan Norma mengganti spionnya dengan ukuran yang lebih kecil dengan alasan agar bisa meliuk di seputar kemacetan. Pemahaman yang sebenarnya bisa dikoreksi karena fungsi spion bagai kumis kucing dimana saat spion berukuran standar tak sanggup masuk di celah kendaraan, maka pada waktu itu pulalah pengendara tak seharusnya melakukan manuver masuk di tengah dua kendaraan.

Di akhir acara peserta terlihat puas mengumpulkan ilmu baru dan sesekali berharap bahwa event sejenis dapat berlangsung secara reguler. Pak John Kurniyanto selaku Sales Manager di hari pertama juga secara tegas mengharapkan pelatihan bisa berakhir baik dan menjadi elemen penting dalam program perusahaan yaitu "Zero Accident to Field Force". Ini seolah berusaha mengurangi fakta buruk fenomena berkendara di tanah air dimana 63% penyebab kemiskinan adalah kecelakaan kendaraan, nyawa seseorang yang hilang atau cedera spontan memutus putaran roda ekonomi keluarga. Kini 86% manusia modern berpotensi mengalami kecelakaan, untuk ukuran lalu lintas yang buruk di kota Jakarta angka ini bisa naik menjadi 96%. 8 dari 10 kecelakaan melibatkan sepeda motor. Jangan ambil bagian dalam fakta mengerikan diatas. Tetap berusaha defensif dan jauhi potensi bahaya. Every K (kilo) is a Killer !

Warung Uneg-Uneg i-Radio

13 Nov 2008

Rabu (12/11) kembali pihak Ditlantas melakukan penyuluhan seputar 'Road Safety' dan kali ini melalui media radio. Pada talkshow Warung Uneg-Uneg i-Radio kali ini mengambil tajuk "Tertib ber-Lalu Lintas", hadir sebagai pembicara Bp. AKBP Chrysnanda selaku Kasubdit Dikyasa Polda Metro Jaya ditemani bintang tamu Delon dan penyiar reguler i-Radio Putri Soehendro yang kali ini ditemani Sandy Andarusman. Topik ini terbilang dekat dengan keseharian pengguna jalan baik mereka pengendara motor, mobil, busway bahkan pejalan kaki. Tak heran banyak acungan tangan muncul hendak menyampaikan pendapat, protes bahkan saran dan anjuran ketika pembawa acara membuka forum tanya jawab. AKBP Chrysnanda membuka informasi mengenai apa sebenarnya konsep Polisi dalam pekerjaan sehari-harinya, konsep itu sendiri tak lain bahwa Polisi hadir sebagai mitra masyarakat sekaligus merawat kehidupannya agar senantiasa masyarakat bisa ber aktifitas dengan aman dan nyaman.

Tahukah kita bahwa kebutuhan perangkat kePolisian saat ini mencapai perbandingan 1 polisi untuk 1500-2000 orang, sementara jika dihitung dari sisi yang ideal 1 polisi sudah cukup menangani 500 orang saja. Terbayang bagaimana sibuknya Polisi yang bertugas sementara kita sebagi pengguna jalan cukup sering menghujat korps berseragam tersebut. Melalui pembicaraan yang simpatik, AKBP Chrysnanda yang hadir beserta seluruh staf nya berusaha merubah imej korps KePolisian agar bisa lebih diterima masyarakat agar sama-sama dapat berjalan di koridor yang sesuai untuk mewujudkan aman dan tertib berlalu lintas.

Di lain pihak, lembaga YLKI pernah mengeluarkan catatan tentang kecelakaan bahwa setiap hari nya selalu saja ada sembilan orang berakhir cacat dan tiga berakhir dengan kematian dalam satu hari. Data mengerikan dan siapa lagi jika bukan kita sendiri yang harus merubahnya. Kini e-enformcement coba diterapkan jajaran Kepolisian, bekerja sama dengan pihak lain untuk sama-sama membangun kepedulian. Pak Chrysnanda juga menambahkan celotehan bahwa jangan lah kita mengharapkan Polisi sehat kalau masyarakat sendiri masih sakit.

Pada forum yang mengambil tempat di McDonald Cikini Rabu pagi, sepertinya masih banyak mis-informasi soal tugas-tugas Polisi. Penjabaran peraturan tidak hanya milik Polisi karena muaranya justru terletak pada keputusan yang diambil oleh Pemerintah, DPR hingga Departemen Perhubungan dimana semuanya menjadi rantai yang utuh dalam pemberian peraturan kepada masyarakat. Bagaimana jika banyak Polisi yang melakukan pelanggaran seperti yang banyak terjadi dan sering terlihat oleh masyarakat ? Jangan sungkan untuk mengadukan segala keluhan ke nomor singkat SMS ke 1717, bisa juga melalui website http://www.lantas.metro.polri.go.id/ atau email di lantaspmj@yahoo.co.idThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it . Di akhir penyuluhan AKBP Chrysnanda mengilustrasikan kisah tentang niat untuk menjadi disiplin. Jika kita tidak mampu merubah dunia, ubahlah untuk merubah bangsa, jika masih terlihat berat coba rubahlah masyarakat, dan jika masih saja berat rubahlah keluarga. Jika semua masih saja tak mampu dilakukan, cobalah rubah diri kita sendiri, siapa tau kita bisa menjadi panutan bagi keluarga atas sikap disiplin diri kita sendiri.

Safety Riding for Family

3 Nov 2008

Secara tidak sadar kadang orang tua tidak lagi peduli dengan aspek keselamatan ketika mereka berangkat dari rumah menuju tempat kerja. Yang terpikir mungkin hanyalah bagaimana menyiasati padatnya rute lalu lintas dari rumah ke kantor atau memikirkan cara bagaimana menghindari masalah jika bertemu dengan atasan. Rantai keselamatan tentunya tidak boleh hilang jika kita menganut keinginan untuk bisa berangkat dengan selamat pulang pun demikian.

Pernahkah untuk lebih memperhatikan rasa kepedulian dan tanggung jawab terhadap keluarga dalam hubungannya menempatkan perilaku tertib dan aman berkendara dalam setiap perjalanan yang dilakukan. Simulasikan berbagai kemungkinan yang dapat saja terjadi saat melakukan perjalanan, perilaku negatif saat berkendara bisa saja menjadi faktor penghadang para orang tua untuk bisa selamat kembali ke pelukan keluarga.

• Jika kita tidak tertib melihat peraturan saat berada di lampu merah, bisa saja nanti akan ada persinggungan yang kerap berakhir adu argumen atau bahkan kecelakaan, keluarga di rumah akan rugi besar,
• Jika kita memilih berkendara di trotoar, dengan alasan agar cepat sebagai pembenaran, sewaktu-waktu pengguna jalan lain pun akan terganggu dan terjadi adu argumen, keluarga di rumah akan rugi besar,
• Jika kita memilih mengacuhkan pemakaian helm standar lalu pada waktunya kita terjatuh dan terluka, keluarga di rumah akan rugi besar.

Masih banyak kemungkinan lain yang berpotensi mengacaukan keinginan para orang tua untuk bisa pergi dan pulang dengan selamat. Tidak ada lagi unsur tanggung jawab terhadap keluarga jika sampai lalai menyematkan perilaku aman berkendara. Anggota keluarga jelas-jelas membutuhkan para orang tua untuk bisa pergi dan kembali dengan selamat. Jangan putus rantai ekonomi keluarga hanya dengan mengabaikan keselamatan saat berkendara. (abee)

Offroad, antara Malu dan Seru

28 Okt 2008

(25/10). Sabtu pagi jam 7:30 baru bisa memejamkan mata dan itupun hanya bisa hingga jam 11 untuk full tidur. Obrolan di luar kamar dan suasana dingin penginapan di bukit kota Lembang memaksa mata membuka lebih awal. Saya tak punya pilihan untuk bangun, mandi dan mempersiapkan kepulangan. Kali ini saya memilih rute Jonggol yang terbukti secara jarak mampu memangkas Bandung-Jakarta ketimbang melalui jalur Cianjur-Puncak-Bogor. Terhitung singkat karena tujuan saya adalah Bekasi melalui Cileungsi sehingga tidak perlu masuk Bogor dan hinggap di Depok yang jauh memutar arah.

KM menunjukkan 6501.1 saat berhenti mengisi bensin di arah pulang perjalanan dari penginapan. Ketika bro-bro HCST berhenti makan siang saya memutuskan tidak ikut berhenti dan memilih untuk memangkas waktu perjalanan agar bisa sampai tujuan lebih awal sebelum gelap. Diantar oleh bro Bagus Rully (ketua regional Cysers/HCST Ja-Bar) ke titik penjemputan tadi pagi akhirnya selepas itu saya berkendara sendiri menuju jalur Padalarang dan berbelok di Jonggol sesuai penunjuk arah yang sudah terlihat di daerah Ciranjang. Aspal terhitung baik dan tidak mengganggu perjalanan, terik matahari masih bisa disiasati dengan kecepatan kendaraan agar tidak terlalu berkeringat. Bensin penuh dan siap menyusuri jalur Jonggol yang memang sudah diniatkan untuk di dokumentasikan.

Sekitar 7-8 KM dari rel KA yang memotong jalur pulang akhirnya arah menuju Jonggol ditemukan, terakhir kali melintasi daerah ini adalah sore/malam bareng rekan-rekan KHCC selepas turing kuliner Sate Kiloan di jalur Puncak Pas. Waktu itu perjalanan terbilang tidak baik karena harus melintasi banyak kubangan lumpur yang banyak menghias jalur Jonggol menuju Cileungsi, keadaan waktu itu pun gelap jadi memang tidak ada yang bisa dinikmati. Untuk perjalanan malam bagi mereka yang berkendara sendiri, jalur Jonggol tidak di rekomendasikan karena jalur ini membelah hutan dan kanan-kiri jalan masih lebat dengan pepohonan dan sesekali melintasi perumahan penduduk. Saya tak akan berani jika harus bergerak malam dan lebih menomorsatukan aspek 'safety' dalam sebuah perjalanan. Persentase rute Jonggol kemarin ternyata sudah jauh lebih baik, aspal mulus naik turun membelah hutan tanpa kendala berarti. Kanan-kiri pemandangan hijaunya perbukitan lebih membawa perjalanan lebih bisa dinikmati. Persentase aspal baik dan buruk jika dihitung bisa menjadi 80% baik - 20% buruk. Bagian yang saya maksud buruk adalah pada pembangunan material jalan yang di-cor di beberapa bagian yang memaksa kendaraan harus bergantian memakai jalur.

Di sela perjalanan saya mencoba teknik menikung dengan counter steering dan counter weight, pada saat itu saya merasa lebih nyaman dengan teknik kedua dimana badan mengambil posisi berlawanan arah dengan arah tikungan dan memainkan pinggul sebagai alat belok. Awasi derajat tikungan demi menghindari kendaraan melebar karena teman seperjalanan di jalur ini di dominasi kendaraan-kendaraan besar. Jika berjalan searah dan hendak mendahului pastikan kondisi arah lawan aman karena kendaraan yang di dahului terhitung besar, awasi juga gerak kemunculan kendaraan dengan efek 'ciluk baa', efek ini adalah sebutan laju kendaraan yang tiba-tiba muncul saat kondisi jalan naik turun dimana daya pandang tidak bisa melihat arah lawan yang juga tengah melaju.

Tak lupa menunaikan ibadah di jalur Jonggol sekaligus makan kecil dan minum minuman segar akhrinya perjalanan dilanjutkan dan belum lagi perlu mengisi bahan bakar karena saya berpikir masih cukup untuk bisa menyentuh daerah Cileungsi. Ketersediaan POM bensin di jalur ini terbilang jarang, selain karena memang sebuah jalur sepi dan bisa di antisipasi dengan pengadaan POM bensin di tiap ujung jalan rute Jonggol hingga Cileungsi, kalaupun ada beberapa disana tidak menyediakan jenis Pertamax.

OFFROAD - ANTARA MALU DAN SERU

Jonggol saya lalui dengan baik tanpa ada kesulitan karena jalur demikian bersahabat, awan mendung sedikit terlihat di atas langit dan sempat berpapasan dengan pengendara motor yang memakai jas hujan. Saya pikir masih terang dan jaket masih mampu menahan gerimis akhirnya terus melintas di jalur menuju Cileungsi, beruntung tidak bertemu hujan. Di sinilah awal petualangan heboh itu muncul. Kebiasaan untuk terus 'sok paham rute' yang saya anut akhirnya ketemu batunya. Arah penunjuk jalan menunjukkan CILEUNGSI .. panah lurus, BEKASI .. belok kanan. Saya berpikir untuk mencoba rute lain karena rute panah Cileungsi akan mengarah ke Narogong yang akan bertemu jalur Rawa Panjang sebelum masuk kota Bekasi. Dengan penuh percaya diri saya berbelok mengikuti arah, sempat ragu karena kana-kiri jalan termasuk jalur sepi dan tidak aktif meski aspal terbilang baik. Sepanjang 500 m entah 1 KM semua berjalan baik sampai akhirnya jalan tiba-tiba putus dan langsung turun ke jalan yang tidak ber-aspal. Tidak terlintas akan kacau jadi diputuskan untuk sedikit melintas untuk sekedar membuktikan rute akan tembus ke Bekasi sesuai penunjuk jalan tadi. Keputusan yang buruk.

Salah strategi melintas jalan licin berair paska hujan yang membuat debu menjadi lumpur akhirnya membuat saya menyerah kalah, seharusnya strategi nya pakai saja jalur bekas ban mobil yang melintang tapi yang di lakukan justru terbawa ke tepi saking licinnya medan, ini yang membuat motor terus oleng berayun-ayun sepanjang jalan sementara kaki tidak boleh diam antisipasi jika motor jatuh. Akhirnya tanpa sadar indikator radiator harus berkedip sementara penunjuk bensin turun satu bar, kacau ..... itu yang terlintas. Jika overheat mesin akan mati akibat terus di gerung, dan ban sudah cukup puas makan tanah yang membuat tanah menembus spatbor dalam. Ban terkunci, tidak mau jalan. Ranting dan bambu-bambu kecil harus membantu mengelupas tanah dari ban kalo ingin ban tetap jalan. Seorang penduduk yang lewat meng instruksikan untuk berputar karena jalan tidak dapat di lewati jika ingin ke Cibarusah. Cibarusah ? Benar ... saya salah jalan.

Harus berputar dan harus malu karena mesin terus berteriak dan indikator sudah berkedip tanda overheat. Malu tapi juga seru karena teringat adegan turing Long Way Down yang terjebak lumpur di Kenya. Alamak ! Kacau semuanya, kacau jadwal, kacau motor dan kacau perangkat, semua berlumuran tanah basah dan menempel ketat. Solusi satu-satunya harus lepas spatbor dan memberi air pada tanah yang menempel, alhamdulilah disinilah akhirnya bantuan datang. Seorang yang datang dari dalam kediaman akhirnya menyarankan masuk area rumahnya untuk bebersih motor sebelum melanjutkan perjalanan. Cerita punya cerita, beliau datang dari kalangan pengajar/pengurus Pesantren Nurul Fikri yang lokasinya berdekatan dengan tempat saya tersasar. Dibantu dorong masuk pekarangan rumah dan mempersilahkan saya mencuci ban motor dan melepas spatbor, untungnya perlengkapan standar dibawa jadi tidak perlu meminjam karena hanya butuh kunci 10 untuk membuka spatbor. Estimasi sampai rumah jam 5 akhirnya harus bubar jalan karena terjebak di tempat yang belum saya kenal dengan baik. Keluarga pengurus berbaik hati menemani saya selama membersihkan kotoran untuk kembali melanjutkan perjalanan. Entah berapa banyak terimakasih yang harus saya haturkan buat mereka, sempat terpikir untuk selanjutnya memberikan mereka bingkisan di lain hari.

Akhirnya roda depan pun telanjang dan usai berpamitan saya pun melanjutkan perjalanan berbalik arah ke arah Cileungsi menuju rumah di Bekasi. Konyol ! Perhitungan yang konyol. Motor berbalut tanah coklat, belum lagi sepatu. Sesampainya di jalur utama saya langsung mencari tempat pencucian motor untuk kembali membersihkan semuanya. KM akhir di rumah menujukkan 6550.8. Malu tapi Seru...what a ride home !

Jakarta - Bandung

27 Okt 2008

(24/10). Keberangkatan HCST ke Bandung akhirnya berjalan pada jam 22:30 setelah lama melakukan pembagian kemeja plus seremoni singkat HCST-Wahana/AHM. Berkekuatan 28 motor akhirnya kelompok turing tidak jadi dibagi dua, berlaku kurang lebih 5 petugas untuk mengawal jumlah tersisa melalui rute Jakarta via Gatsu/Pancoran - Pasar Minggu - Depok - Jl Baru Depok - KSU menuju pit stop satu di Warung Jambu Bogor untuk menjemput bro Tono yang sudah stand by disana. Grup turing secara umum berjalan baik meski ada beberapa rekan HCST yang baru melakukan perjalanan secara berkelompok dan berjalan jauh untuk pertama kalinya.

Titik Awal keberangkatan KM motor tercatat 6319.6, isi bensin di jalur Jl. Panjang dengan Pertamax, hinggap di Panahan pada kilometer 6321.2. Perjalanan hingga Bogor tercatat berakhir di KM 6370.9, berarti total 49.7 km sudah digeber sedari Panahan, jalanan lancar karena memang ini menjadi kelebihan jalan malam dimana arus lalu lintas tidak akan sepadat siang. Pada awalnya saya merekomendasikan jalan pagi karena berhubungan dengan kemudahan trouble shooting jika terjadi kendala, menghilangkan efek kantuk karena idealnya tubuh istirahat pada malam hari sampai kemudahan dalam menikmati perjalanan karena masih bisa melihat kanan-kiri selama perjalanan. Secara voting pemilih perjalanan malam lebih banyak dan saya hanya bisa melakukan gambaran dan wanti-wanti agar semua dalam kondisi terbaik.

Lepas dari Bogor HCST bergerak menuju jalur Puncak menuju Bandung melalui Cianjur, 3 bar tersisa dan tak ingin mengambil resiko akhirnya tanki coba di penuhi lagi pada KM 6399.4 (15ribu) berbarengan dengan berhentinya klotur karena ada masalah pada salah satu motor Cysers. Untungnya malam itu HCST menyertakan dua mekanik yang spontan dapat menyelesaikan masalah komstir.

Rombongan kembali bergerak dan malam itu sengaja berjalan di kecepatan rata-rata 50 km/jam yang kemudian dipercepat menjadi > 60km/jam selepas beristirahat kembali di salah satu POM Bensin di Cianjur, KM malam itu menunjukkan 6427.3. Bro Asep yang notabene orang Bandung ditunjuk jadi penunjuk jalan, kencang sejadi-jadinya padahal sebelumnya berusaha untuk menikmati perjalanan. Beberapa Cysers sebenarnya masih terlihat lelah akibat kantuk dan 'ngebut' menjadi obat instan meski riskan ber potensi masalah. Bro Ilham yang baru pertama kali melakukan perjalanan malam akhirnya menyerah dan minta dibonceng, sebuah bukti bahwa sebenarnya perjalanan malam adalah situasi yang tidak ideal.

Akhirnya klotur masuk wilayah Bandung dengan dijemput oleh beberapa Cysers Bandung pukul 05 sekaligus berhenti untuk ibadah sholat Subuh. Sinar matahari sudah mulai terlihat dan pagi itu menemani HCST sarapan bubur dan bergerak naik ke Lembang menuju tempat penginapan. Berhenti di penginapan pada sekitar pukul 07 dan langsung semua beristirahat.

Overall perjalanan berangkat terhitung lancar tanpa kendala berarti dan Cysers terbilang fasih berkendara berkelompok meski ada beberapa gap soal skill dan pengalaman. Lelah terbayar sesampainya di penginapan dan langsung berbaring istirahat apalagi saya harus pulang lebih awal, jam 07 masuk penginapan, jam 12 siang saya merencanakan perjalanan kembali tanpa rombongan karena sesuatu hal yang harus dikejar sesampainya di Bekasi. Ride to Bandung is a success. (BERSAMBUNG ...)