Tampilkan postingan dengan label a-kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label a-kuliner. Tampilkan semua postingan

Es Krim RAGUSA

4 Agu 2009


( atas-Ragusa warna merah)


Es krim RAGUSA namanya. Ada di jl Veteran I no.10 Jakarta. Sebagaimana terpampang di dinding kedai nya, resto es krim ini sudah berdiri sejak 1932. Wah bahkan sudah berdiri sebelum tahun kemerdekaan bangsa ini. Berarti sudah ada masa gaul dan hiburan waktu itu ya. Hari Sabtu (1Aug 09), akhirnya meluncur juga ke tempat yang begitu dekat dengan Monas dan masjid Istiqlal. Letaknya berseberangan dengan masjid Istiqlal dan berada di bawah rel KA Gambir, berdampingan dengan berbagai macam toko lain di sepanjang Jl Veteran.

Hari itu kami memesan satu Spaghetti Ice Cream dan satu Banana Split Ice Cream. Masing-masing di kenai harga 27.000 rupiah. Cukup mahal memang tapi layak untuk sebuah es krim yang tersuguh di mangkuk oval warna putih. Warna-warninya memikat lidah ditambah tumpukan es krimnya yang memang benar-benar dalam porsi yang lebih. Es krim nya masih segar karena memang buatan saat itu juga dan tanpa bahan pengawet. Harus lekas di habiskan karena dalam waktu singkat es krim akan lumer.

Sebagai teman makan es krim kami menghadirkan satu piring sate ayam. Harganya 8000. Menu satu ini malah menambah kenyang. Maklum porsi es krim ternyata cukup banyak belum lagi yang Banana Splitnya. Pisang pasti membuat kenyang -atau eneg..hehehe-.

Nuansa jaman dulu memang sangat terasa di ruangan RAGUSA ini. Dekorasi dinding mempertahankan sejarahnya. Dan begitupun dengan meja-kursinya. Kursinya cukup sempit dan rendah. Tapi tidak mengurangi kelezatannya. Ruangan yang terbilang kecil dengan jumlah pengunjung yang keluar masuk mungkin perubahan besar ruang bisa jadi prioritas. Entahlah. Hanya manajemen Ragusa yang tau. Yang jelas es krim ini nikmat dan bisa menjadi titik target kuliner para penggemar es krim.

Sekilas Ragusa
====================
( SUMBER )
Nama “Ragusa” berasal dari dua orang berkebangsaan Italia yang datang ke Indonesia pada tahun 1930-an, saat itu Luigie Ragusa dan Vincenzo Ragusa datang ke Indonesia hanya untuk belajar jahit menjahit di Jakarta Pusat. Setelah lulus mereka lalu pergi ke Bandung dan bertemu dengan wanita berkebangsaan Eropa yang memiliki peternakan sapi. Melihat produksi susu sapi yang sangat banyak pada saat itu, Luigie Ragusa dan Vincenzo Ragusa pun punya ide agar susu sapi tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik. Lalu munculah ide untuk mejadikannya sebagai bahan utama pembuatan es krim. Bukannya menjadi penjahit, dua bersaudara Italia tersebut malah tertarik membuat es krim. Ternyata es krim buatan mereka disukai dan laku dijual.
====================

Lesehan ala Warung Komby Kalimalang

2 Mar 2009

"Kapan mo nyobain warung Komby ?" , begitu tanya teman kelar mencoba Nasi Goreng Semarangan tempo hari. Ok, gue jawab jumat deh ya kita makan, ntar gue traktir, yah efek gajian ya beginilah. Alhasil jumat malam janjian lagi di seputaran Cipete kelar Magrib untuk lantas meluncur ke Kalimalang sesuai rute perjalanan pulang. Lokasinya terbilang mudah ditemukan. Jika tau dengan BCA dekat Curug Kalimalang, posisinya ada di sebelah kiri gedung BCA, tepat di pelataran bengkel mobil umum yang buka dari pagi hingga sore. Karena space cukup lapang maka pengelola Warung Komby (WK) ber inisiatif memanfaatkan ruang kosong. Kesan pertama yang terlihat adalah kebersihannya, di luar space warung yang terbilang super lega. Jam buka adalah dari pukul 19.00 hingga 23.30.

Parkir malam itu terbilang masih lengang karena sempat kepikiran jangan-jangan bakal penuh jelang weekend. Awalnya gue pikir pengunjung bisa langsung menuju tempat duduk ternyata oleh pelayan langsung di arahkan menuju ke mobil Komby sebagai booth makanan. Bagus juga arahannya ketimbang harus berebut tempat saat baru datang, jadi pengunjung memesan dulu baru kemudian mencari tempat duduk untuk selanjutnya menu siap diantar ke meja masing-masing. Malam itu berdua kawan langsung mengambil menu berikut :

- Jus Alpukat Spesial cak Komby (*lezat karena dimasukin kopi segala di alpukatnya) seharga 9000
- Jahe Hangat seharga 6500
- 2 Bebek Penyet seharga @ 14500
- 2 Sate Paru seharga @ 4500
- Tempe seharga 1500
- Tahu seharga 1500
- 2 Ceker seharga @ 1500
- 2 Lalap Sambel seharga @ 5000
- 2 Nasi seharga @ 2500

Total 69500 rupiah.

Kelar minta izin mengambil gambar justru di waktu berikutnya dipergoki pak Tori sebagai pengelola nya. Beruntung beliau enak di ajak ngobrol, mungkin dikira mata-mata yang seenaknya mau ambil gambar gue langsung memberikan informasi bahwa gue datang dari komunitas motor plus blogger, yang suka nulis-nulis apapun dan kali ini mau nge review beberapa warung makanan. Ternyata beliau membuka diri lebar-lebar, syukurlah, obrolan pun jadi panjang pake sesi foto-foto pula (*foto pak Tori tuh berbaju hijau).

Overall apa yang coba disajikan Warung Komby adalah kenikmatan menu berbalut nyamannya suasana. Space ada yang menggunakan tempat ala lesehan, bangku ber-tenda hingga bangku kecil. Semuanya nyaman di lokasi outdoor. Jika hujan arena lesehan bisa bergeser ke ruang bengkel yang terbilang teduh. Bagusnya lagi bengkel ini bengkel bersih sehingga jauh dari kotoran oli atau apapun ala bengkel. Spot nya cocok buat jadi tempat ngumpul, tempat diskusi karena tidak riuh (paling karena musiknya) plus tingkat kenyamanannya yang terbilang oke punya.

Bagaimana dengan kelezatan makanannya ? Pedas nya Bebek Penyet benar-benar terasa, bertambah lezat tumpang tindih sama Sate Paru dan air es Alpukat bernuansa kopi. Wah nikmat. Nah buat yang mau coba jangan lupa ajak gue ya :-)

*temen siape sih yang dimaksud dateng makan bareng gue ? hahahaa ... itu si Irwan Handoko, wong Bekasi n KHCC*

-- Culinary Cyber Riders --

Nasi Goreng Babat SEMARANGAN

25 Feb 2009

Namanya tawaran makan bareng pasti ga akan gue lewatkan apalagi jika statusnya 'gratisan'. Kali ini bareng bro Irwan KHCC (*KHCC berapa wan?) janjian di deket Circle K Cinere untuk selanjutnya jalan bareng menyusuri padatnya Jakarta Selatan menuju Timur lalu masuk ke Kalimalang. Ah ternyata ga padat-padat juga ya malam itu. Tujuannya adalah NASI GORENG BABAT di warung yang bertebaran di sepanjang jalur Kalimalang. Posisinya sekitar 500m sebelum Polsek Duren Sawit. Banner kuning besar terlihat, yang paling mudah dilihat justru tulisan JAPEMETHE, nah posisinya ya jadi satu dekat bakmi Japemethe. Namanya Nasi Goreng SEMARANGAN.

Parkir, buka helm dan jaket, observasi sekeliling barangkali ada pemandangan. Pemandangan jualan aseso bikers maksudnya .. *ngeles*, akhirnya duduk di sudut dekat gerobak yang menggoreng Nasi Gorengnya. Satu porsi Nasi Goreng Babat dihargai 12ribu plus teh hangat tawar 1000 rupiah. Tastenya gimana ? Yah gue bilang sih masih kurang gurih gitu, tidak ada rasa khas yang 'nendang' lidah. Yang enak ya karena kehadiran babatnya plus saos kalo mau sedikit pedas. Overall sih cukup mengenyangkan perut karena gue dan Irwan memang dalam kondisi lapar. Range berapa kalo dinilai antara 1 hingga 10 .. mmm ... 7 aja ya.

Di lokasi yang sama sebenarnya banyak pilihan, plus ruang yang lega, parkiran sama leganya. Harga juga ga terlalu memusingkan kepala kecuali kehadiran kita disana pas tanggung bulan, ya kayak hari kemarin itu, asli dompet kok terlihat menipis, beruntung Irwan dengan senyum khasnya rela merogoh kocek lebih dalam. Yummy *di traktir mode ON*. Suasananya terbilang tidak riuh jadi pas pas aja jika spot ini dibuat medan meeting buat siapapun yang mau bahas sesuatu dengan lebih serius dan tidak sekadar cuci mata tanpa hasil.

Kelar makan, pulang sambil tetep lirik kiri sebentar dan nemu warung kombi .. patut dicoba. Next deh ya.

Bubur Ayam Proyek Bekasi H. Asiman

21 Jan 2009



Bubur Ayam H. Asiman. Buat yang stay di Bekasi pernah denger atau mampir ? Kalo iya pasti tau sejarah si penjualnya, dulu sempet buka warung tenda di depan Hembo (Hembo dah musnah sekarang), nah sekarang pindah ke lokasi yang masih berdekatan. Bedanya warung yang ada sekarang sifatnya fixed, alias bertembok jadi ga perlu dorong-dorong gerobak lagi. Lokasinya kalo kita jalan dari arah stasiun Bekasi, menyeberang jembatan, kita akan sampai di lokasi yang kalo di Bekasi sebutannya PROYEK. Ini jalan satu arah. Tiba di perempatan kalo lurus lari ke Terminal Bekasi, belok kiri ke arah Mekar Sari dan belok ke arah pasar Proyek, belok saja ke kanan sekitar kurang dari 100 m ada warung bubur ayam dengan spanduk nama H. Asiman. Letaknya kanan jalan.

Satu porsi cukup kena 10.000, tambah sate usus n ati ampela @2500, paling minumnya ya es teh. Kalo boleh membandingkan sama bubur ayam pasar hias rias Cikini sih jauh, maksudnya lebih lezat buryam pak Asiman ini. Lengkap dengan potongan kentang, ebi, ayam, apa lagi ya ... mangkuk penuh deh, kalo di aduk bisa sedikit tumpah. Kerupuknya juga banyak. Yah masing-masing konsumen beda selera, ada yang cari nikmat, ada yang cari suasana. Bicara buryam sebenernya ada lagi satu penjual buryam gerobak yang lama ga dikunjungi, mangkalnya pagi di sebelah gedung Bimantara, persis di bawah rel KA menuju Gambir. Buryam itu asli bikin kenyang, hampir sama kenyangnya sama buryam pak Asiman ini.

Nah mampir deh kalo sore-sore laper, biasanya malam dikit dah habis. Warung buryam ini buka pagi dan sore, pengunjung keluar masuk gantian makan. Murah, kenyang pula. Nyam nyam nyam .....

Bubur Ayam Pasar Hias Rias Cikini

Hujan deras 3 hari di Jakarta berubah menjadi sedikit cerah di Rabu sore (14/01), hasil wisata web menemukan satu titik makan di daerah Cikini. Menu utamanya bubur ayam dan ayam goreng. Namanya Bubur Ayam Pasar Hias Rias. Posisinya persis di sebrang POM bensin baru Pertamina Cikini, jam buka sore pukul 17:00 hingga malam.

Harga terbilang relatif, satu porsi bubur ayam ati ampela dihargai 14 ribu rupiah. Cukup mahal jika dibandingkan harga bubur ayam pinggir jalan untuk sarapan yang sebenarnya tidak kalah cemerlang dalam hal rasa. Harga tadi ditutupi suasana yang terbilang apik untuk tempat istirahat di tengah perjalanan. Gelaran tikar lampit dan lesehan jelas memberi nilai lebih kedekatan pengunjung. Positioning lesehannya mengambil halaman gedung yang sepertinya sudah tidak aktif lagi. Pemilihan yang tepat.

Bicara rasa bisa dibilang cukup enak, tergantung lidah mana yang hendak ditanya. Untuk tongkrongan pulang kantor rasanya sudah lebih dari cukup demi menghindari jam puncak macet bubar kerja. Jika tak banyak agenda bolehlah kita mampir disini.

Nasi Goreng Babat Gongso

22 Mei 2008





Nah yang ini pas mampir nyoba Nasi Goreng Babat di Kampung Melayu, bayangkan elo dari arah Tebet, sebelum naik flyover Kamp. Melayu nyisir dulu ke kiri aja dan cari plang Babat Gongso, kalo ga salah inget ye heheheee ..........

Nasi Goreng Babat + Es Teh Manis + Es Lidah Buaya sekitar 20rb.

Gerobak jual Nasi Bebek


Lokasi : Pinggir jalan Cempaka Putih arah ke Senen
Harga : 7000
Lumayan lah buat alternatif sarapan.
Nasi Bebek itu ternyata ya isinya Daging Bebek Goreng, lalapan + sambal, maklum baru nyoba *lirik dik*

Nasi Goreng Ati Ampela

5 Mar 2008

Nasi dan Mie Goreng "Khas Solo"
Lokasi : Kiri Jalan, bersebelahan dengan jalan masuk stasiun KA Bekasi



Enak dan bikin kenyaaaannggg ......... kl pas laper pgn nasgor ya disini inilah tempat gue mampir