(25/10). Sabtu pagi jam 7:30 baru bisa memejamkan mata dan itupun hanya bisa hingga jam 11 untuk full tidur. Obrolan di luar kamar dan suasana dingin penginapan di bukit kota Lembang memaksa mata membuka lebih awal. Saya tak punya pilihan untuk bangun, mandi dan mempersiapkan kepulangan. Kali ini saya memilih rute Jonggol yang terbukti secara jarak mampu memangkas Bandung-Jakarta ketimbang melalui jalur Cianjur-Puncak-Bogor. Terhitung singkat karena tujuan saya adalah Bekasi melalui Cileungsi sehingga tidak perlu masuk Bogor dan hinggap di Depok yang jauh memutar arah.
KM menunjukkan 6501.1 saat berhenti mengisi bensin di arah pulang perjalanan dari penginapan. Ketika bro-bro HCST berhenti makan siang saya memutuskan tidak ikut berhenti dan memilih untuk memangkas waktu perjalanan agar bisa sampai tujuan lebih awal sebelum gelap. Diantar oleh bro Bagus Rully (ketua regional Cysers/HCST Ja-Bar) ke titik penjemputan tadi pagi akhirnya selepas itu saya berkendara sendiri menuju jalur Padalarang dan berbelok di Jonggol sesuai penunjuk arah yang sudah terlihat di daerah Ciranjang. Aspal terhitung baik dan tidak mengganggu perjalanan, terik matahari masih bisa disiasati dengan kecepatan kendaraan agar tidak terlalu berkeringat. Bensin penuh dan siap menyusuri jalur Jonggol yang memang sudah diniatkan untuk di dokumentasikan.
Sekitar 7-8 KM dari rel KA yang memotong jalur pulang akhirnya arah menuju Jonggol ditemukan, terakhir kali melintasi daerah ini adalah sore/malam bareng rekan-rekan KHCC selepas turing kuliner Sate Kiloan di jalur Puncak Pas. Waktu itu perjalanan terbilang tidak baik karena harus melintasi banyak kubangan lumpur yang banyak menghias jalur Jonggol menuju Cileungsi, keadaan waktu itu pun gelap jadi memang tidak ada yang bisa dinikmati. Untuk perjalanan malam bagi mereka yang berkendara sendiri, jalur Jonggol tidak di rekomendasikan karena jalur ini membelah hutan dan kanan-kiri jalan masih lebat dengan pepohonan dan sesekali melintasi perumahan penduduk. Saya tak akan berani jika harus bergerak malam dan lebih menomorsatukan aspek 'safety' dalam sebuah perjalanan. Persentase rute Jonggol kemarin ternyata sudah jauh lebih baik, aspal mulus naik turun membelah hutan tanpa kendala berarti. Kanan-kiri pemandangan hijaunya perbukitan lebih membawa perjalanan lebih bisa dinikmati. Persentase aspal baik dan buruk jika dihitung bisa menjadi 80% baik - 20% buruk. Bagian yang saya maksud buruk adalah pada pembangunan material jalan yang di-cor di beberapa bagian yang memaksa kendaraan harus bergantian memakai jalur.
Di sela perjalanan saya mencoba teknik menikung dengan counter steering dan counter weight, pada saat itu saya merasa lebih nyaman dengan teknik kedua dimana badan mengambil posisi berlawanan arah dengan arah tikungan dan memainkan pinggul sebagai alat belok. Awasi derajat tikungan demi menghindari kendaraan melebar karena teman seperjalanan di jalur ini di dominasi kendaraan-kendaraan besar. Jika berjalan searah dan hendak mendahului pastikan kondisi arah lawan aman karena kendaraan yang di dahului terhitung besar, awasi juga gerak kemunculan kendaraan dengan efek 'ciluk baa', efek ini adalah sebutan laju kendaraan yang tiba-tiba muncul saat kondisi jalan naik turun dimana daya pandang tidak bisa melihat arah lawan yang juga tengah melaju.
Tak lupa menunaikan ibadah di jalur Jonggol sekaligus makan kecil dan minum minuman segar akhrinya perjalanan dilanjutkan dan belum lagi perlu mengisi bahan bakar karena saya berpikir masih cukup untuk bisa menyentuh daerah Cileungsi. Ketersediaan POM bensin di jalur ini terbilang jarang, selain karena memang sebuah jalur sepi dan bisa di antisipasi dengan pengadaan POM bensin di tiap ujung jalan rute Jonggol hingga Cileungsi, kalaupun ada beberapa disana tidak menyediakan jenis Pertamax.OFFROAD - ANTARA MALU DAN SERU
Jonggol saya lalui dengan baik tanpa ada kesulitan karena jalur demikian bersahabat, awan mendung sedikit terlihat di atas langit dan sempat berpapasan dengan pengendara motor yang memakai jas hujan. Saya pikir masih terang dan jaket masih mampu menahan gerimis akhirnya terus melintas di jalur menuju Cileungsi, beruntung tidak bertemu hujan. Di sinilah awal petualangan heboh itu muncul. Kebiasaan untuk terus 'sok paham rute' yang saya anut akhirnya ketemu batunya. Arah penunjuk jalan menunjukkan CILEUNGSI .. panah lurus, BEKASI .. belok kanan. Saya berpikir untuk mencoba rute lain karena rute panah Cileungsi akan mengarah ke Narogong yang akan bertemu jalur Rawa Panjang sebelum masuk kota Bekasi. Dengan penuh percaya diri saya berbelok mengikuti arah, sempat ragu karena kana-kiri jalan termasuk jalur sepi dan tidak aktif meski aspal terbilang baik. Sepanjang 500 m entah 1 KM semua berjalan baik sampai akhirnya jalan tiba-tiba putus dan langsung turun ke jalan yang tidak ber-aspal. Tidak terlintas akan kacau jadi diputuskan untuk sedikit melintas untuk sekedar membuktikan rute akan tembus ke Bekasi sesuai penunjuk jalan tadi. Keputusan yang buruk.Salah strategi melintas jalan licin berair paska hujan yang membuat debu menjadi lumpur akhirnya membuat saya menyerah kalah, seharusnya strategi nya pakai saja jalur bekas ban mobil yang melintang tapi yang di lakukan justru terbawa ke tepi saking licinnya medan, ini yang membuat motor terus oleng berayun-ayun sepanjang jalan sementara kaki tidak boleh diam antisipasi jika motor jatuh. Akhirnya tanpa sadar indikator radiator harus berkedip sementara penunjuk bensin turun satu bar, kacau ..... itu yang terlintas. Jika overheat mesin akan mati akibat terus di gerung, dan ban sudah cukup puas makan tanah yang membuat tanah menembus spatbor dalam. Ban terkunci, tidak mau jalan. Ranting dan bambu-bambu kecil harus membantu mengelupas tanah dari ban kalo ingin ban tetap jalan. Seorang penduduk yang lewat meng instruksikan untuk berputar karena jalan tidak dapat di lewati jika ingin ke Cibarusah. Cibarusah ? Benar ... saya salah jalan.
Harus berputar dan harus malu karena mesin terus berteriak dan indikator sudah berkedip tanda overheat. Malu tapi juga seru karena teringat adegan turing Long Way Down yang terjebak lumpur di Kenya. Alamak ! Kacau semuanya, kacau jadwal, kacau motor dan kacau perangkat, semua berlumuran tanah basah dan menempel ketat. Solusi satu-satunya harus lepas spatbor dan memberi air pada tanah yang menempel, alhamdulilah disinilah akhirnya bantuan datang. Seorang yang datang dari dalam kediaman akhirnya menyarankan masuk area rumahnya untuk bebersih motor sebelum melanjutkan perjalanan. Cerita punya cerita, beliau datang dari kalangan pengajar/pengurus Pesantren Nurul Fikri yang lokasinya berdekatan dengan tempat saya tersasar. Dibantu dorong masuk pekarangan rumah dan mempersilahkan saya mencuci ban motor dan melepas spatbor, untungnya perlengkapan standar dibawa jadi tidak perlu meminjam karena hanya butuh kunci 10 untuk membuka spatbor. Estimasi sampai rumah jam 5 akhirnya harus bubar jalan karena terjebak di tempat yang belum saya kenal dengan baik. Keluarga pengurus berbaik hati menemani saya selama membersihkan kotoran untuk kembali melanjutkan perjalanan. Entah berapa banyak terimakasih yang harus saya haturkan buat mereka, sempat terpikir untuk selanjutnya memberikan mereka bingkisan di lain hari.Akhirnya roda depan pun telanjang dan usai berpamitan saya pun melanjutkan perjalanan berbalik arah ke arah Cileungsi menuju rumah di Bekasi. Konyol ! Perhitungan yang konyol. Motor berbalut tanah coklat, belum lagi sepatu. Sesampainya di jalur utama saya langsung mencari tempat pencucian motor untuk kembali membersihkan semuanya. KM akhir di rumah menujukkan 6550.8. Malu tapi Seru...what a ride home !
Kategorinya !
- a-biker's blog (69)
- a-Blog This Sony Ericsson (35)
- a-candid camera (11)
- a-cs 1 (14)
- a-desain (1)
- a-dewi-dewi (11)
- a-entertainment (10)
- a-event (26)
- a-fun food rally (1)
- a-gadget (3)
- a-global warming (2)
- a-HAI (1)
- a-i complain (22)
- a-jalan jalan (23)
- a-jddc (4)
- a-kantor (1)
- a-khcc (2)
- a-KLX (1)
- a-kuliner (8)
- a-lahan parkir motor (2)
- a-love (1)
- a-magazine (2)
- a-Manchester United (14)
- a-motoGP (14)
- a-motor (1)
- a-movies (9)
- a-nulis nulis (50)
- a-pikir dulu donk (11)
- a-project JR (4)
- a-provokasi (1)
- a-public figure (1)
- a-review (10)
- a-Ride to Bromo (3)
- a-roadshow JDDC (4)
- a-safety riding (49)
- a-SALE (1)
- a-sepakbola (9)
- a-shout from the heart (14)
- a-si kecil (2)
- a-superhero (6)
- a-tempat modif (1)
- a-turing bikers (9)
- a-turing mudik (23)
- a-tv show (7)
- a-ujung genteng (9)
- a-vario (2)
- a-worldsuperbike (1)
- aku dan negri (2)
- bcbloggerday (11)
- DR LEON JAMES (1)
- iHadesign (8)
- JOE PALLADINO (1)
Offroad, antara Malu dan Seru
28 Okt 2008Diposting oleh Andry di Selasa, Oktober 28, 2008 0 komentar
Label: a-biker's blog, a-jalan jalan, a-safety riding
Jakarta - Bandung
27 Okt 2008(24/10). Keberangkatan HCST ke Bandung akhirnya berjalan pada jam 22:30 setelah lama melakukan pembagian kemeja plus seremoni singkat HCST-Wahana/AHM. Berkekuatan 28 motor akhirnya kelompok turing tidak jadi dibagi dua, berlaku kurang lebih 5 petugas untuk mengawal jumlah tersisa melalui rute Jakarta via Gatsu/Pancoran - Pasar Minggu - Depok - Jl Baru Depok - KSU menuju pit stop satu di Warung Jambu Bogor untuk menjemput bro Tono yang sudah stand by disana. Grup turing secara umum berjalan baik meski ada beberapa rekan HCST yang baru melakukan perjalanan secara berkelompok dan berjalan jauh untuk pertama kalinya.
Titik Awal keberangkatan KM motor tercatat 6319.6, isi bensin di jalur Jl. Panjang dengan Pertamax, hinggap di Panahan pada kilometer 6321.2. Perjalanan hingga Bogor tercatat berakhir di KM 6370.9, berarti total 49.7 km sudah digeber sedari Panahan, jalanan lancar karena memang ini menjadi kelebihan jalan malam dimana arus lalu lintas tidak akan sepadat siang. Pada awalnya saya merekomendasikan jalan pagi karena berhubungan dengan kemudahan trouble shooting jika terjadi kendala, menghilangkan efek kantuk karena idealnya tubuh istirahat pada malam hari sampai kemudahan dalam menikmati perjalanan karena masih bisa melihat kanan-kiri selama perjalanan. Secara voting pemilih perjalanan malam lebih banyak dan saya hanya bisa melakukan gambaran dan wanti-wanti agar semua dalam kondisi terbaik.
Lepas dari Bogor HCST bergerak menuju jalur Puncak menuju Bandung melalui Cianjur, 3 bar tersisa dan tak ingin mengambil resiko akhirnya tanki coba di penuhi lagi pada KM 6399.4 (15ribu) berbarengan dengan berhentinya klotur karena ada masalah pada salah satu motor Cysers. Untungnya malam itu HCST menyertakan dua mekanik yang spontan dapat menyelesaikan masalah komstir.
Rombongan kembali bergerak dan malam itu sengaja berjalan di kecepatan rata-rata 50 km/jam yang kemudian dipercepat menjadi > 60km/jam selepas beristirahat kembali di salah satu POM Bensin di Cianjur, KM malam itu menunjukkan 6427.3. Bro Asep yang notabene orang Bandung ditunjuk jadi penunjuk jalan, kencang sejadi-jadinya padahal sebelumnya berusaha untuk menikmati perjalanan. Beberapa Cysers sebenarnya masih terlihat lelah akibat kantuk dan 'ngebut' menjadi obat instan meski riskan ber potensi masalah. Bro Ilham yang baru pertama kali melakukan perjalanan malam akhirnya menyerah dan minta dibonceng, sebuah bukti bahwa sebenarnya perjalanan malam adalah situasi yang tidak ideal.
Akhirnya klotur masuk wilayah Bandung dengan dijemput oleh beberapa Cysers Bandung pukul 05 sekaligus berhenti untuk ibadah sholat Subuh. Sinar matahari sudah mulai terlihat dan pagi itu menemani HCST sarapan bubur dan bergerak naik ke Lembang menuju tempat penginapan. Berhenti di penginapan pada sekitar pukul 07 dan langsung semua beristirahat.Overall perjalanan berangkat terhitung lancar tanpa kendala berarti dan Cysers terbilang fasih berkendara berkelompok meski ada beberapa gap soal skill dan pengalaman. Lelah terbayar sesampainya di penginapan dan langsung berbaring istirahat apalagi saya harus pulang lebih awal, jam 07 masuk penginapan, jam 12 siang saya merencanakan perjalanan kembali tanpa rombongan karena sesuatu hal yang harus dikejar sesampainya di Bekasi. Ride to Bandung is a success. (BERSAMBUNG ...)
Diposting oleh Andry di Senin, Oktober 27, 2008 0 komentar
Label: a-biker's blog, a-cs 1, a-event, a-jalan jalan, a-safety riding
Ride Like a Master !
21 Okt 2008Kebutuhan pelatihan Aman Berkendara yang akrab disebut ‘Safety Riding’ idealnya sudah menjadi kebutuhan banyak pihak bagi mereka yang berkutat dengan kendaraan roda dua sebagai kendaraan operasional harian. Jalan raya yang sudah demikian padat bercampur dengan fakta bahwa banyak pengendara hanya mengandalkan keberanian tanpa dibarengi tanggung jawab untuk saling peduli sesama pengendara, belum lagi menomor duakan ‘skill’ atau kemampuan yang kerap menjadi awal dari sebuah kecelakaan jalan raya. Apa usaha yang sudah dilakukan oleh kita untuk menjadi pengendara yang bebas dari sebuah peluang kecelakaan entah menjadi penyebab maupun menjadi korban. Hal ini yang menjadi pegangan Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) untuk terus bergerak di jalur operator pelatihan berkendara secara bertahan atau lebih akrab disebut ‘Defensive Riding’.
"Dari Kita, Untuk Kita !", sebut pak Jusri Pulubuhu, kepala instruktur ‘safety riding’ JDDC yang hari itu menemani rekan-rekan dari Indonesian Bikers Society 888 berlatih bersama sebuah pelatihan Aman Berkendara bertajuk ‘Riding Dynamic Course – Ride Like a Master’ di bilangan Pondok Pinang Jakarta Selatan. Tak kurang dari 10 pengendara motor besar secara aktif mengikuti tahapan demi tahapan setiap pelajaran teori dan praktik yang hari itu juga dipandu oleh bung Joel D.Mastana, nama yang tak asing yang selalu bergelut di pelatihan ‘safety riding’ motor-motor besar. Tak kurang ragam tipe motor besar hadir mulai dari ragam varian Harley Davidson hingga Honda Gold Wing di sela cuaca terik Jakarta Minggu pagi (19/10).
Bagi komunitas IBS 888 event seperti ini terhitung sebuah pengalaman baru, komunitas motor besar yang baru saja terbentuk 8 Agustus 2008 ini datang dari berbagai latar belakang profesi mulai dari pengusaha, dokter hingga artis/presenter seperti Adi Nugroho yang hadir dengan Electra Police-nya, meski bukan dipakai sebagai kendaraan harian melainkan datang dari hobi kesempatan ini benar-benar membuka cakrawala pengetahuan baru di dunia berkendara karena memang banyak sekali hal-hal yang senantiasa luput dari perhatian, hal kecil ternyata menjadi penting dan kebiasaan yang dilakukan ternyata kadang adalah sebuah kekeliruan.
Seperti yang diutarakan oleh salah satu peserta pelatihan yaitu bro Agus yang hari itu datang mengendarai Honda Gold Wing dengan singkat, “Bagus dan bermanfaat!”. Pelatihan yang hari itu dipandu secara bergantian oleh pak Jusri dan bung Joel berjalan komunikatif dan selalu berisi materi-materi ilmu aman berkendara yang teramat sayang untuk dilewatkan seperti bagaimana peserta di ajarkan untuk ‘membangunkan’ sepeda motor yang tengah tidur paska jatuh, posisi tangan mengenggam grip gas, posisi tubuh saat berkendara hingga membedakan perilaku berbelok dengan teknik ‘counter weight’ dan ‘counter steering’.
Dua teknik tersebut berbeda gaya dimana ‘counter weight’ lebih tepat digunakan saat motor berbelok di kecepatan rendah dan menggunakan pinggul sebagai kendali sementara ‘counter steering’ lebih tepat digunakan pada kondisi berbelok dengan kecepatan tinggi dimana tubuh mengikuti rebahan motor.
Seolah satu hari saja tak akan cukup bagi peserta yang hari itu juga diajak mencicipi banyak trek seperti meniti papan keseimbangan, teknik menekan rem dengan benar, melintasi gundukan hingga teknik berputar serta slalom. Idealnya hasil pelatihan ini dapat terbawa pada kondisi berkendara di keseharian dan terus menempatkan perilaku ‘Defensive Riding’ menjadi yang utama. Ride Like a Master ! (abee)
DOKUMENTASI LENGKAP DISINI
Diposting oleh Andry di Selasa, Oktober 21, 2008 0 komentar
Label: a-biker's blog, a-event, a-nulis nulis, a-safety riding
Honda CS1 Two Wheels Slalom Test Ride
17 Okt 2008Satu lagi usaha kampanye 'Safety Riding' yang coba diapungkan di tengah masyarakat bikers. Kali ini mengambil konsep sebuah kontes slalom bertajuk 'Honda CS1 Two Wheels Slalom'. Acara atas inisiatif Astra Honda Motor sebagai pabrikan nomor satu roda dua di Indonesia didukung penuh oleh Otomotif Group bersama dengan Otomotif Event Management hadir sebagai penyegar metode kampanye 'Safety Riding' yang tengah mencari nuansa baru. Konsep atau cara bermain kontes ini cukup sederhana, peserta atau riders hanya diberikan 2 buah rute slalom yang berbeda tingkat kesulitannya (Heat 1 dan Heat 2). Pembeda alur jalan hanya dibedakan melalui dua jenis warna kun dan lomba slalom nantinya akan dihitung melalui sebuah mesin pencatat yang dijamin akurasinya. Siapa yang cepat maju dari garis start hingga berhenti di garis finish layak maju ke babak berikutnya. Sebelum kontes berjalan, peserta diberi waktu mempelajari rute slalom dimana dalam pergerakan slalom peserta tidak diperbolehkan menurunkan kaki apalagi menjatuhkan kun, bila dilakukan kibaran bendera dari marshall lomba akan dinaikkan dan penalti siap menanti.
Sabtu, 11 Oktober 2008, di Tipar Cakung Jakarta Timur, tempat riset roda dua AHM, dua komunitas motor masing-masing Honda City Sport Team dan Straight Line (freestyler) diberikan kesempatan menjajal rute slalom ditemani dua test rider Otomotif yang berbaju balap lengkap. Bagi yang pertama mencicipi gerak slalom tentunya masalah rute yang menjadi kesulitan utama, dimana harus berbelok dan dimana harus berputar ternyata tidak bisa dihafal hanya oleh satu kesempatan pertama, alhasil baik rekan-rekan HCST dan Straight Line kerap salah jalur kun. Event tahap awal pengenalan lomba ini dilakukan terbatas di tempat yang juga terbilang sangat tertutup. AHM Tipar Cakung adalah tempat utama riset motor baru Honda, semua kerahasiaan tertutup ketat di tempat ini termasuk kemungkinan khalayak umum yang ingin mengunjungi tempat ini, aturan ketat sedikit berbeda dengan kantor/pabrik AHM lain seperti Sunter dan Cikarang. Di tempat seluas 50 hektar inilah kesempatan langka diterima redaksi Jalanraya dan komunitas undangan.
Kontes slalom ini hadir untuk lebih mengenalkan varian bebek sport baru Honda ditengah masyarakat dengan bungkusan hiburan dan kontes, Honda City Sport One gres siap untuk diperebutkan oleh peserta. Gelaran yang akan digelar tanggal 9 November ini membuka beberapa kelas termasuk kelas eksebisi yang pesertanya sudah kadung dekat dengan aksi freestyle. Adrian sebagai pihak pengundang para komunitas dan juga salah satu pengurus Straight Line memastikan unsur Safety tetap dikedepankan seperti penggunaan alat 'Safety Riding' standar plus protektor. Sebuah pendekatan maksimal ke audiens demi menjaga validitas kampanye yang mengedepankan 'Safety Riding' atau Aman Berkendara. Untuk informasi lebih detail tentang prosedur dan jangka waktu pendaftaran, pembagian kelas dan motor serta pernak-pernik lain kegiatan tetap pantau terus tabloid Otomotif dan Motor Plus sebagai barometer informasi para penggemar otomotif. Jika berjalan baik kontes slalom ini di prospek untuk hadir rutin plus dengan skala yang lebih besar yaitu skala nasional. Sukses Otomotif dan AHM !!
Diposting oleh Andry di Jumat, Oktober 17, 2008 0 komentar
Label: a-biker's blog, a-event
DAY FIVE <> LONG WAY HOME
(02/10) Pagi yang demikian dingin jam 6 baru membuka mata dan bangun dari sofa, maklum seluruh kamar dan kasur terpakai oleh kerabat wanita dan anak-anaknya, yang pria harus rela 'kelekaran' di lantai menggunakan alas alternatif yang untungnya tetap kebagian jatah bantal, itu yang penting. Sarapan dan berpamitan perjalanan baru akan dimulai sekitar jam 8.30 pagi. Setelah meninggalkan uang pengganti penginapan sekaligus untuk bantu-bantu saudara yang mengurus rumah peninggalan kakek-nenek, akhirnya semua berkumpul di teras menemani persiapan 15 menit mengenakan dekker siku dan lutut, cukup makan waktu tapi harga keselamatannya bisa terbayar. Sementara Honda City Sport One juga telah siap ditunggangi setelah kemarin sesaat sebelum ke Candi Gedong Songo menyempatkan untuk ganti oli di AHASS pasar Ambarawa.
Ada sedikit kekhawatiran karena di perjalanan ini tidak ada lagi kesempatan menginap seperti halnya di hari pertama, target awal adalah komplek pemakaman Panggung Tegal yang lokasinya berdekatan dengan stasiun Tegal. Lama tidak hadir disini yang ada hanya 'pangling' karena sudut kota telah berubah banyak sampai tak mengenali lagi jalur jalan yang dulu lebih mudah diingat. Warna-warna biru mendominasi sudut kota lengkap dengan lalu lintasnya yang hari itu terlihat cukup lengang. Pemakaman Panggung Tegal adalah tempat makam kakek nenek dari bapak yang mau tidak mau harus dikunjungi karena sudah ada amanat mampir karena sudah sekian lama tidak ada yang mengunjungi. Kurang lebih jam 14.30 sudah memasuki kota Tegal, cuaca terik tidak mengalahkan semangat berkendara hari itu. Sempat terpikir untuk mencari losmen kecil demi melanjutkan perjalanan keesokan harinya, keinginan itu juga datang karena ingin mencicipi malam kota Tegal yang lama sudah tidak dirasakan. Lihat jam tangan sepertinya dari sisi waktu masih cukup mengejar matahari sebelum terbenam demi melintasi jalur membosankan di jalur Pantura. Setelah mengisi perut di RM Pi'an dengan menu nasi khas Tegal dan es teh manis akhirnya diputuskan tidak perlu menginap dan mencoba menekan gas sesegera mungkin dengan target jam 22 sudah harus sampai di rumah di Bekasi.KM menunjukkan 4920.3 di pom bensin kota Tegal, lalu lintas ramai lancar. Isi pertamax dan langsung melanjutkan perjalanan dan berpisah dari kota Jawa Tengah di KM 4956.3, total hanya 36 km dari Tegal menuju perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Seperti halnya saat berangkat jalur ini aspalnya terbilang cacat karena ada saja lubang-lubang kecil yang bisa saja mengganggu kecepatan perjalanan, sikap hati-hati harus ditunjukkan ekstra di jalur ini. Melintasi Cirebon dengan mata awas terus melihat papan penunjuk arah ke Jakarta agar tidak sampai keliru arah dan bisa memperlambat perjalanan, ternyata saat mata awas pun ada saja rambu penunjuk arah yang terlewat, mata kaget karena alur perjalanan sedikit menanjak, berbeda dengan suasana jalur Pantura, benar saja ternyata muncul gapura besar "Selamat Datang di Kabupaten Majalengka". Perjalanan sudah cukup lama dan harus menerima keadaan salah arah, terpaksa berbalik karena ini justru arah menuju Bandung dan bukan melintasi Pantura melewati Bekasi nantinya. Untung saja banyak tanda yang mengarahkan kembali ke Pantura menuju Jatibarang. Akhirnya di Jatibarang ini motor kembali isi bensin dan terpaksa menenggak Premiun, KM menunjukkan 5039.8, total 119,5 km Pertamax menipis dari kota Tegal, strip masih 2 bar dan tidak ingin mengambil resiko sampai bar berkedip. 119.5 km dengan 20 ribuan Pertamax sejauh yang teringat sudah cukup membuat hati puas dari sisi keiritan sebuah Honda City Sport One. Perjalanan pun berlanjut mengejar matahari yang kian tenggelam di Pantura sementara ada keinginan untuk tidak terjebak gelap di jalur Subang.
Waktu tak bisa dikejar, akhirnya merasakan juga perjalanan malam (sore) yang gelap setelah mampir beribadah Magrib di salah satu masjid di pinggir jalur kota Subang. Ganti baju dan membuat diri lebih fresh karena perjalanan selanjutnya akan lebih memaksa mata tetap awas karena kondisinya yang berubah drastis dari sebuah perjalanan siang hari. Lepas beribadah dan kembali melakukan perjalanan, kali ini musuh utama perjalanan malam datang dari bis-bis besar Pantura berkecepatan tinggi yang rentan membuat oleng motor, belum lagi mobil-mobil pribadi yang sama cepatnya seolah mengharap jangan sampai mereka tidak melihat kehadiran para pengendara motor di lajur kiri. Idealnya pengendara motor yang gemar jalan malam harus melengkapi diri untuk lebih terlihat (visible) di mata pengendara lain. Bisa dengan mengenakan jaket ber-scotlite yang dapat memantul cahaya dari kejauhan plus nyala lampu belakang baik lampu rem dan lampu sein yang mutlak harus dalam keadaan normal. Tetap awasi spion menanti setiap perubahan yang mungkin terjadi, tiap 8 detik cek spion sepertinya harus lebih di percepat menjadi tiap 2 detik, setidaknya itu yang dirasakan agar tidak muncul efek 'ciluk ba' dimana kendaraan lain sudah ada di buntut motor. Tetap pandang perjalanan di depan sejauh mungkin dan atur pergerakan mata untuk tetap memantau spion. Jalan malam di Pantura setidaknya menjadi situasi tidak ideal dan pilihlah jalan siang karena tingkat visibilitas bisa tercapai maksimal.
Di KM 5146.5 akhirnya kembali harus isi bahan bakar dan kali ini sudah mencapai daerah Cikampek. Total 106.7 km dari terakhir isi bahan bakar dan tetap tidak ingin mengambil resiko kehabisan bensin saat berjalan dan memilih reload tiap indikator menunjukkan masih 2 bar. Di daerah ini lah keadaan lalu lintas menjadi lumayan padat. Mungkin karena ini jadi jalur pertemuan bagi kendaraan yang baru saja lepas dari tol Cikopo. Keadaan aspal jalan berubah tidak mulus yang membuat kecepatan tidak bisa dipacu sekencang di jalur Pantura. Satu hal yang harus jadi perhatian pengendara adalah keharusan untuk tidak terlena di saat-saat akhir perjalanan. Biasanya pengendara menjadi lebih agresif karena kemunculan rasa ingin cepat sampai di tujuan dimana hal ini riskan membuat pengendara menjadi tidak fokus yang bisa mengakibatkan celaka. Ada benarnya karena malam itu pacuan CS1 menjadi sedikit tidak beraturan karena terlena arah penunjuk jalan yang sudah demikian dekat dengan Bekasi - Jakarta. Beruntung masih cukup di lindungi oleh Yang Maha Kuasa yang akhirnya pada KM 5206.8 kendaraan pun akhirnya menepi di pinggir pagar rumah di kota Bekasi, waktu belum menunjukkan pukul 22 (21.30) yang berarti target tercapai dari perkiraan awal mengejar jam 22 tiba di rumah. Alhamdulillah 1090.8 km pulang dan pergi sudah berhasil di lewati.
BANYAK-BANYAK TERIMA KASIH BUAT :
Allah SWT atas kesempatannya, Keluarga tercinta atas ijin perjalanannya, film turing inspiratif 'LONG WAY DOWN' ala Charley Boorman dan Ewan Mc Gregor (Nat Geo Channel), keluarga besar bro Irwan KHCC atas fasilitas inap dan substitusi P3K nya di Cirebon, bro Bubu KHCC yang terus saling monitor via SMS tentang situasi perjalanan di keberangkatan, member KHCC, RSA dan HCST atas supportnya, peta perjalanan mudik yang di-provide AHM-Wahana, Cybermudik hingga Indosat meski tidak sempat mampir di pit-stop nya, pemerintah daerah yang menyediakan aspal baik selama perjalanan, keluarga besar Soedomo di Kayumas Ambarawa, tempat-tempat ibadah saat mampir dan tukang penjaja makanan-minuman di jalur perjalanan dan lain-lain sebagainya yang sulit diingat untuk disebut satu per satu. Yang paling utama, thanks buat teman baik perjalanan, HONDA CITY SPORT ONE B 6193 KPL dan seluruh perlengkapan 'Safety Riding' maksimum dari INK s5, sarung tangan, jaket turing hingga dekker lutut-siku yang menjadi pengawal keselamatan perjalanan. Can't wait to ride for the next journey. It's the journey, not the destination. Enjoy it all by Riding Safely.
Diposting oleh Andry di Jumat, Oktober 17, 2008 0 komentar
Label: a-turing mudik
DAY FOUR <> LEBARAN
(01/10) Tidak banyak aktifitas bermotor yang dilakukan pagi hari karena ini sudah hari H Lebaran 1429 H. Tepat jam 7 jalan ke masjid untuk Ied bareng warga setempat, kelar 2 rakaat lanjut khotbah dengan full menggunakan bahasa Jawa, diem sejadi-jadinya karena antara ngerti ga ngerti tentang khotbah yang diutarakan. Kelar semuanya penduduk desa memiliki tradisi mengeluarkan segala macam jenis penganan yang diumbar di pelataran masjid. Semua bebas tukar menukar penganan mulai dari makanan kecil hingga makanan berat seperti nasi dan lauk pauk. Jadi teringat mendiang ibu kalau beliau suka sekali ikutan mengambil jatah penganan yang ada di masjid ini, pulang-pulang terkadang membawa lebih dari segenggam makanan kecil rupa-rupa, tapi tahun ini sudah tidak ada lagi sosok ibu.
Diluar perjalanan mudik ternyata si kecil sudah demikian tidak betah harus tinggal di tempat adik ipar plus mertua ditambah jadwal penerbangan yang harus dilakukan bundanya si kecil. Di antara keinginan ingin lebih lama tinggal untuk sekedar mengeluarkan diri dari penat ibukota akhirnya diputuskan untuk kembali lebih awal yaitu keesokan harinya.
Sedari kemarin sempat punya keinginan untuk sedikit melakukan wisata kuliner, apalagi kalo ingat warung bakso yang mangkal di pagasar Jetis, enak banget, Akhirnya ketimbang ga punya waktu makan-makan, tujuan kota Salatiga adalah tujuan perjalanan sore hari. Ternyata pasar Jetis sedang mengalami renovasi dan pastinya warung bakso itu tutup, ga mau terlihat kalah akhirnya nge-gas mencari warung bakso lain yaitu Bakso Babat di tengah kota sibuk Salatiga, meski masih banyak toko terlihat tutup warung Bakso Babat seharga 10 ribu plus es teh manis iani tetap buka. Lumayan, masih sempat makan bakso. Akhirnya ya pulang untuk persiapan perjalanan esok hari.
Mengharap sepi, justru keadaan di Kayumas semakin ramai karena keluarga dari Jogja turun full team, yang ada ya main, main dan main belum lagi ajakan obrolan hingga malam, baru sekitar jam 9 dan 10 malam ruangan mulai sepi karena sudah pada kelelahan bermain. Tutup mata untuk beristirahat kemudian bersiap pulang, besok.
Diposting oleh Andry di Jumat, Oktober 17, 2008 0 komentar
Label: a-turing mudik
Laskar Pelangi: the Movie
Karya cipta Andrea Hirata akhirnya naik ke layar lebar, kisahnya tentang perjuangan sekelompok anak sekolah tingkat dasar dengan bantuan tak kenal lelah dari seorang ibu Guru. Untuk sederetan nama pemeran dan sosok yang diperankannya mungkin bisa dilihat di sini http://www.laskarpelangithemovie.com/, saya hanya coba melihat dari sisi pandang seorang penonton 21 yang datang tidak dengan bawaan pengenalan novel Laskar Pelangi sebelumnya, jadi saya hanya terbawa keriuhan keingintahuan penonton untuk menyaksikan langsung sebuah film adaptasi novel laris karya Andrea Hirata. Dari keadaan sebelumnya yang terjadi di tiap studio pemutaran film akhirnya saya dan keluarga memutuskan menunggu hingga badai penonton mulai sepi karena pada hari-hari sebelumnya antrian penonton tak jarang membuat kesal karena bisa saja kita yang sudah antri harus rela duduk mendongak karena kebagian jatah di barisan depan. Tunggu punya tunggu pun berhasil karena malam itu kami duduk nyaman di deretan F studio 21 Metropilitan Mall Bekasi berbekal tiket 15ribu untuk 3 orang.
Sebagai penonton yang mungkin datang dari pembaca novelnya pasti ada saja nada protes kurang ini dan kurang itu tapi saya pikir untuk durasi film tak mungkin bisa menerjemahkan isi satu buku penuh demi memuaskan khalayak ramai. Cerita yang diangkat dari secuil kisah dari pulau Belitong (sama tidak dengan Belitung ?) saya melihat banyak kegembiraan yang coba diterjemahkan sutradara dimana mimpi harus kita jaga dan kita coba raih beserta kesempatan yang datang. Saya yang tidak gemar membaca novel cukup puas melihat film ini yang menyajikan petualangan mendapatkan pendidikan dan riuh rendahnya sukacita yang diusung oleh para karakter yang bermain, mulai dari kesempatan bersekolah yang akhirnya terjalani karena memenuhi kuota di detik terakhir, keriangan 10 anggota laskar pelangi mencapai piala idaman, hingga kematian pengasuh besar mereka saat mereka tengah di puncak semangat. Penggambaran alam saya pikir sangat baik mengedepankan alam pesisir pantai, padang rumput, rawa ber-buaya digandeng nada-nada humoris para Laskar Pelangi.
Akhir kata film ini masih layak tonton di segala umur meski di beri catatan hanya untuk penonton di atas 10 tahun. Jangan terlalu mencari kekeliruan kata-kata yang ada di novel dan dibanding-bandingkan dengan versi layar lebarnya, jangan juga terlalu mempertanyakan kenapa disini tidak ada itu dan itu tidak ada disini. Apa yang diharapkan dari sebuah film berdurasi singkat untuk sama baiknya dengan versi novel. Sebuah pemandangan cerita segar ketimbang harus antri hanya demi film horor yang tidak becus di produksi atau percintaan tidak jelas yang mencari air mata penonton. Film Indonesia memang sedang naik pangkat karena sudah mampu mendominasi papan studio di bioskop-bioskop kota, tinggal kita yang harus pintar memilih mana film yang baik mana film yang buruk dan Laskar Pelangi masuk di kategori BAIK. Great job !!
Diposting oleh Andry di Jumat, Oktober 17, 2008 0 komentar
Label: a-review
DAY THREE <> Wisata Candi Gedong Songo
7 Okt 2008(30/9) Lama tidak mengunjungi objek wisata yang satu ini, Candi Gedong Songo menjadi salah satu target perjalanan saat liburan di Ambarawa. Lokasi nya terbilang rada sulit ditemui buat yang pertama kali datang kesini karena petunjuk arah yang tersedia hanyalah ke arah Bandungan. Jika datang dari arah Bawen memasuki pasar Ambarawa cermati posisi Bank BCA di sisi kiri jalan, arah ke Bandungan ada di seberangnya (sisi kanan), jalan ini memandu arah ke lokasi wisata Bandungan dan Candi Gedong Songo. Kelokan dan tanjakan tajam kerap ditemui jadi jangan salah memakai gigi kendaraan ketimbang menjadi lemah saat naik yang membuat mesin meraung tinggi. Buat yang tidak siap dengan bahan bakar, satu POM bensin resmi ada di pertigaan menuju Candi Gedong Songo, tetap Premium menjadi konsumsi utama yang disediakan. Dari POM tersebut ini posisi Candi naik sekitar 3 KM, tanjakan makin curam sementara hawa dingin yang dulu sudah bisa dirasakan sejak siang kini berubah lebih panas, isu pemanasan global ? tidak tau juga.
Setelah parkir dan menitipkan sepatu boots dan helm, akhirnya tiket seharga 6000 rupiah pun dibeli dan naik berjalan kaki masuk ke pelataran candi. Masih coba mengingat pengalaman pertama kali saat kesini tapi justru tidak teringat apa-apa selain makanan sate kelinci yang dulu sempat dicoba. Hari itu pengunjung termasuk sedikit, karena memang belum masuk hari raya sementara pedagang makanan memilih tutup karena masih adanya ibadah puasa. Segelintir pengunjung coba memaksimalkan sepinya rute jalan. Penasaran ingin sampai di puncak candi, ga perlu pikir panjang akhirnya naik kuda juga. Jalan naik turun berbatu seolah ingin memangkas jalan akhirnya kesampaian juga di candi ke-9, candi yang terhitung paling tinggi. Dari ketinggian inilah pemandangan perbukitan dapat di lihat dengan jelas apalagi saat itu cuaca tengah terang.Rute balik ke bawah melintasi pemandian air panas belerang dan beberapa candi lain sepanjang jalan turun. Kios-kios masih tampak belum menunjukkan kegiatan, menurut si empunya kuda betina Anjani, si bapak memberi info bahwa biasanya baru hari ke 2 Lebaran dan seterusnya wisata candi ini akan tampak sibuk oleh pengunjung. Secara umum semua pemandangan tampil menakjubkan, hanya angin dingin yang ternyata tidak sedingin dulu ditambah coret-coretan pengunjung yang memadati bangunan pos-pos candi. Kotor. Harusnya pihak candi langsung menindak pelaku dan menghukumnya untuk menyapu pelataran candi selama 6 hari berturut-turut. Informasi detil pengetahuan soal candi bisa langsung googling menggunakan kata sandi " Candi Gedong Songo". Di tulisan ini sih hanya sekedar serapan pengalaman saja mengenai indah tidaknya candi.
Kelar wisata seorang diri ... *kasian ya*, akhirnya turun dari tempat wisata, mesin seolah tak perlu di nyalakan karena jalur turun terhitung ada yang curam adan yang landai yang membuat roda tetap berputar tanpa harus berhenti dan menggerung mesin. Puas karena sudah mencicipi rute naik turun candi dengan motor plus menunggang kuda dengan tarif 50ribu hingga ke puncak candi di atas bukit.
Diposting oleh Andry di Selasa, Oktober 07, 2008 0 komentar
Label: a-jalan jalan, a-turing mudik
DAY TWO <> CIREBON - AMBARAWA
6 Okt 2008Bangun Subuh, dan mendapatkan sarapan gulai, maklum lagi-lagi tidak puasa benar-benar jadi bekal istimewa perjalanan hari ke 2 menuju Ambarawa. Setelah dikawal menuju jalur utama Cirebon akhirnya kami berpisah di rute masing-masing. Menuju perbatasan Jawa Barat - Jawa Tengah situasi jalan sama padatnya seperti jalur Pamanukan kemarin, adanya pasar tumpah, POM bensin, menumpuknya kendaraan, badan jalan yang kecil membuat situasi semakin membuat gerah perjalanan. Semua kendala keruwetan baru perlahan usai setelah melintasi Brebes menuju Tegal. Jalanan aspal di rute menuju Tegal terbilang kurang mulus karena banyaknya efek bumpy yang membuat motor kerap oleng jika ingin bermain di kecepatan tinggi. Baiknya memang di lintasi siang hari ketimbang malam dimana potensi jalan yang tidak mulus bisa luput dari perhatian.
Akhirnya dengan lega kendaraan memasuki kota Tegal, kota yang lama tidak dikunjungi sejak wafatnya kakek-nenek yang tinggal disini. Melalui daerah pinggiran Tegal menuju Pemalang lalu lintas ramai lancar dan terbantu oleh kondisi jalan mulus menyusuri sisi utara pantai Jawa. Mulus, lebar 4 lajur dan lancar menjadi santapan tersendiri di jalur ini, terus menuju daerah Pekalongan hingga Batang. Naik turun membelah bukit di kota kecil Batang benar-benar nikmat, dan sekali lagi harus tetap waspada apalagi jika bis besar yang angin dan klaksonnya mengagetkan. Di Batang ini akhirnya menyempatkan diri break di tengah jalur perbukitan menyantap mie rebus dan air es kelapa segar plus ibadah siang dan mengistirahatkan kaki.
Ketersediaan bahan bakar Pertamax juga sama langkanya seperti perjalanan di hari pertama jadi memang terpaksa harus gonta-ganti jenis dari Premium hingga Pertamax. Tapi ini bukan jadi masalah besar karena masalah ini tertutupi dengan nikmatnya perjalanan. Belum mengenal jalan tidak berarti harus tersasar karena petunjuk arah jalan benar-benar banyak tersedia mengarahkan setiap kendaraan yang hendak menuju Semarang, Solo atau Jogja.
Setelah membelah kota Semarang, rute Ungaran - Bawen - Salatiga pun terlampaui dan menuju Ambarawa, sengaja mengambil jalur Salatiga meski terhitung jarak nya lebih jauh karena ingin saja melihat suasana pinggir kota Salatiga menuju Ambarawa. Jarak Bawen ke Ambarawa menuju desa kecil Kayumas sebenarnya bisa dipangkas dengan menempuh rute dalam kota Ambarawa melewati museum Kereta Api Kuno, tapi ya itu tadi keinginan melewati Salatiga menyingkirkan niat memangkas jalan via Ambarawa.Berangkat dari Cirebon kurang lebih jam 6 pagi dan tiba di Ambarawa sekitar pukul 3 sore yang berarti total waktu tempuh kurang lebih 9 jam. Menyenangkan tiba di tujuan.
(BERSAMBUNG ... )
Diposting oleh Andry di Senin, Oktober 06, 2008 2 komentar
Label: a-turing mudik
DAY ONE <> BEKASI - CIREBON
Subuh pagi itu 28 September cuaca cenderung cerah untuk menemani perjalanan Bekasi - Cirebon yang sudah direncanakan matang sebelumnya. Izin jalan dari keluarga sudah dikantungi plus support dari rekan-rekan terdekat jadi modal berharga dalam perjalanan. Rute akan mengambil rute standar pantai utara (Pantura) *cek rute diatas*. Perlengkapan aman berkendara sudah terbalut mulai dari jaket turing, celana jeans, sarung tangan turing tebal, sepatu tomkins, protektor siku dan lutut scoyco plus helm baru Ink tipe s5 model trail dengan kaca bening. Terinspirasi petualangan bermotor ala Long Way Down nya Charley dan Ewan perjalanan kali ini akan coba dinikmati semaksimal mungkin, mulai dari kemacetan hingga melesat dengan kecepatan tinggi. Berbekal empat tipe peta untuk mengenal nama kota yang dilewati akhirnya perjalanan pun dimulai dari rute menyisir Kalimalang melintasi Tambun hingga Cibitung menuju Cikarang terus ke Cikampek. Iring-iringan motor pemudik sudah terlihat sejak masuk di jalan besar kota Bekasi, tampaknya teman seperjalanan akan membludak sepanjang perjalanan, 3 hari menuju hari H Iedul Fitri 1429 H.
Padat. Itu yang bisa dirasakan sampai-sampai tidak ada kata untuk kesalahan kalau tidak ingin terjerembab dan menggagalkan perjalanan. Maklum, perilaku negatif mayoritas pengendara ibukota sepertinya akan terbawa ke jalur mudik ini. Benar saja, salah satu pelaku berkendara zig-zag memaksa kendaraan lain kaget dan oleng yang efeknya justru menyenggol stang kendaraan sendiri. Sukses dua motor jatuh terjerambab dengan kecepatan yang lumayan cepat di jalur yang padat. Beruntung full protektor yang dipakai berhasil menahan rasa sakit dan luka akibat dengkul menggerus aspal. Seketika itu juga macet dan dibantu masyarakat setempat kami meminggirkan kendaraan masing-masing. Pengendara Tiger Revo yang hanya mengenakan sarung tangan model setengah harus mau menahan sakit dan luka dan boncenger nya pun tak luput dari cedera. Stok P3K pun keluar mulai dari perban, alkohol hingga plester, hanya ucapan hati-hati yang bisa disampaikan sambil beristirahat sekitar 15 menit memulihkan mental. Kecelakaan pertama yang seperti cukup menjadi pelajaran pentingnya atribut aman berkendara yang lengkap untuk sebuah perjalanan turing yang jauh. Perjalanan harus dilanjutkan sambil mengucap pisah ke pasangan yang masih beristirahat dari syoknya kecelakaan tadi. Ironisnya di jalur berlawanan terjadi lagi satu kecelakaan yang ternyata lebih berat dari yang baru saja kami alami. Alhamdulillah Yang Kuasa masih melindungi dan perjalanan pun berlanjut.Di Cikampek Selatan inilah 'crowd' kendaraan sudah menyemut, warna hitam helm menumpuk terlihat di kejauhan tanda jalanan sudah mulai sumpek oleh bertumpuknya kendaraan yang merayap lambat. Jalur padat hingga Pamanukan dan benar-benar memakan badan jalan, motor harus rela tersisih karena kerap ada saja roda empat yang tidak mau berbagi. Bagaimana dengan bahan bakar ? jenis bahan bakar yang di konsumsi pun harus berganti-ganti dari Premium ke Pertamax karena memang ketersediaan Pertamax di jalur Pantura terbilang langka. Antrian panjang POM bensin pun menjadi warna tersendiri bagi motor yang butuh minum.
Jenis aspal di jalur hingga Pamanukan sebenarnya terbilang baik dan tidak ada lubang yang berpotensi bikin celaka, cuma memang kondisinya tidak bisa seratus persen dinikmati karena roda dua kadang harus tersingkir amat ke pinggir, badan jalan normal sudah tak cukup menampung kendaraan pemudik siang itu. Baru setelah melewati Pamanukan jalanan terlihat lancar, kemacetan terjadi lebih ke adanya pasar atau pom bensin. Lepas Pamanukan jalur terbilang lancar dan bisa dinikmati setelah sebelumnya berhenti ibadah di masjid yang banyak tersedia di jalur Pantura. Melaju tidak terlalu kencang hingga Cirebon dan sampai di titik temu dengan bro Irwan sekitar pukul 16 jika tidak salah ingat. Berarti perjalanan dari Bekasi memakan waktu tak kurang dari 10 jam. Di perjalanan seperti inilah ancaman dehidrasi senantiasa timbul jadi jangan sungkan untuk berhenti minum melepas dahaga demi menjaga mata tetap awas di tengah perjalanan. Laju bus-bus besar juga menjadi perhatian tersendiri, lengah sedikit saja tanpa cek spion akan membawa banyak perubahan situasi jalan. Belum lagi efek angin samping ketika melintas rute persawahan, kewaspadaan keseimbangan kendaraan juga harus jadi perhatian.
Setelah jalan panjang dan melelahkan, di Cirebon inilah akhirnya break panjang dilakukan hingga pagi hari, terima kasih buat bro Irwan dan keluarganya yang baik hati, malamnya dapet jalan-jalan keliling kota Cirebon, makan Somay plus melihat kencangnya 5 biker klub Tiger Cirebon melaju ... ride safe bro ! Malam pun tidur nyenyak hingga pagi tiba.
(BERSAMBUNG ... )
Diposting oleh Andry di Senin, Oktober 06, 2008 0 komentar
Label: a-turing mudik
CATATAN KILOMETER
Jadi begini ternyata rasanya pulang mudik naik motor. Hmmm ... menyenangkan juga dan penuh dengan pengalaman baru. Berikut perhitungan dari kilometer ke kilometer selama perjalanan.
Hari Keberangkatan pukul 05:30 tgl 28 Sept 2008 :
CATATAN KILOMETER
<> 4116.0 - Start Awal Bekasi
<> 4149.0 - Kecelakaan di daerah Kdwaringin, Cikarang
<> 4175.5 - Berhenti mengambil gambar padatnya jalur mudik kendaraan di daerah Cikampek
<> 4195.1 - Break di POM Subang tanpa isi bensin
<> 4215.3 - Break dan Antri isi bensin (Premium 15rb) di POM Pamanukan
<> 4228.0 - Sholat Dhuhur plus sekalian Ashar di Masjid setelah Pamanukan
<> 4327.3 - Berhenti dan menginap di rumah orang tua bro Irwan Handoko (KHCC) di Cirebon, plus isi Bensin (Pertamax 20rb)
<> 4415.1 - Break minum di daerah Tegal - Pemalang
<> 4444.0 - Break dan isi bensin (Premium 15rb) di POM Comal
<> 4489.4 - Break makan minum di Batang
<> 4563.1 - Isi bensin (Pertamax 23.500) di Semarang Atas
<> 4604.1 - Sampai di tempat tujuan daerah Kayumas Ambarawa
<> 4666.0 - Wisata Candi Gedong Songo, plus isi bensin Premium
<> 4677.3 - Berhenti setelah turun dari Candi
<> 4690.0 - Kembali ke Kayumas
<> 4776.0 - Isi Bensin (Pertamax) di POM Kendal
<> 4920.3 - Isi Bensin (Pertamax) di POM Tegal
<> 4956.3 - Perbatasan Jawa Tengah - Jawa Barat
<> 5039.8 - Isi Bensin (Premium) di POM Jatibarang
<> 5146.5 - Isi Bensin (Pertamax) di POM Cikampek
<> 5206.8 - Start Akhir Bekasi
Total KM Perjalanan = 1090.8 KM, *catatan per KM tidak presisi 100% hanya melalui pengamatan speedometer berjalan, hanya bersifat perkiraan saja, maaf jika ada missed pencatatan dalam hal pengisian bensin dll*
RUTE 1 - BEKASI ke CIREBON
Bekasi - Tambun - Cibitung - Cikarang - Karawang - Cikampek - Pamanukan - Patrol - Losarang - Lohbener - Jatibarang - Kertasemaya - Palimanan - Kedawung - Cirebon = 211.3 KM.
RUTE 2 - CIREBON ke AMBARAWA
Cirebon - Kanci - Losari - Brebes - Tegal - Pemalang - Pekalongan - Batang - Weleri - Kendal - Semarang - Ungaran - Bawen - Salatiga - Ambarawa = 276.8 KM
(BERSAMBUNG ... )
Diposting oleh Andry di Senin, Oktober 06, 2008 0 komentar
Label: a-turing mudik












